Sunday , April 21 2019
Home / Kolom / Teologi Perdamaian
https://www.facebook.com/tsuryandharu

Teologi Perdamaian

Kemajemukan dan keberagaman adalah dua hal yang sangat melekat dalam kehidupan di Indonesia. Dalam kalimat yang lebih sederhana, dapat digambarkan sebagai dua sisi mata uang yang tali-temali. Sejarah perjuangan membuktikan ternyata keduanya tidak menjadi masalah yang mengganggu integritas bangsa, justru dapat menjadi modal yang sangat berharga dalam perjuangan merebut kemerdekaan. Namun demikian, dalam konteks kekinian, tak jarang aksi kekerasan atau teror muncul yang mengancam sehingga akhirnya memecah persepsi khalayak tentang gambaran damai dan toleransi di tengah kemajemukan dan keberagaman masyarakat di Indonesia sebagai sebuah nation-state, yang bhinneka.

Aksi kekerasan dan terorisme atas nama agama mulai marak terjadi terutama pasca reformasi 1998, dimana kran demokrasi dibuka lebar yang sangat memungkinkan masuknya berbagai arus ideologi dan kepentingan. Sejak itu pula, kontrol terhadap ekspansi ideologi tertentu, nilai dan gerakan dari luar melemah. Melemahnya control yang dimaksud tak lain karena berubahnya peta gerakan yang ada. Demikian juga agama yang menjadi salah satu objek infiltrasi. Salah satu efek jelas adalah semakin suburnya radikalisasi agama yang berujung pada tindakan intoleransi, saling mencurigai dan terorisme.

Agama yang semestinya menjadi solusi atas ketimpangan kehidupan, justru sering ‘dialih fungsikan’, misalnya menjadi komoditas kepentingan politik sesaat. Serta, khusus di Indonesia, paling mudah dijadikan alat provokasi dan propaganda. Agama pun kerapkali ditampilkan dengan wajah garang dan tidak ramah, bahkan dilakukan oleh entitas elit agama itu sendiri. Padahal semestinya semakin taat dalam agama (ad-dien), seseorang akan semakin mencintai perdamaian dan keramahan.

Jika dirunut, aksi kekerasan dan intoleran tersebut tumbuh dari akar teologi yang intoleran yang berujung tindak kekerasan. Eksklusivitas sebuah agama yang saat ini seringkali kita temui adalah cerminan dari teologi kekuasaan. Sementara orientasi kekuasaan cenderung mendorong pada perilaku-perilaku koruptif dan kesewenang-wenangan.
Oleh karenanya yang harus kita lakukan, sebagai entitas yang sadar, sebagai tindakan preventif adalah menumbuh-kembangkan teologi perdamaian yang mengarah pada penanaman tindakan serta sikap yang toleran nan ramah.

Dasar teologi perdamaian adalah sifat-sifat Tuhan, misalnya ke-Esa-an, belas kasih, dan penyayang, yang ke semuanya sangat berhubungan dengan perdamaian. Dari tahapan teologis yang demikian, pelaku agama terutama aktivis gerakan dakwah keagamaan akan cenderung dapat mengaplikasikan tindakan yang ramah, toleran dan inklusif, serta menjadi rahmat bagi semesta alam.

Teologi perdamaian ini lah yang akan selalu selaras dan dapat menjadi solusi bagi keberagaman masyarakat (suku, ras, atau aliran apapun). Sehingga, apa yang saya sebut sebagai teologi perdamaian lebih bisa mengkreasikan keberagaman (plurality) atau perbedaan (diversity) menjadi sebuah harmoni kehidupan.

Yang dilakukan oleh para pendahulu Nahdlatul Ulama (salafushsholih) saya kira lebih didasari semangat keselarasan hidup seperti yang saya sebutkan di atas. Sebuah keselarasan yang dimunculkan adalah sifat rahman (welas asih) dan rohim (penyayang). Oleh karenanya tidak heran apabila NU selalu berusaha mengekspresikan wajah Islam yang ramah, bukan marah. Terkait itu, muncullaah guyonan (baca: candaan) ala jamaah tahlil yang ada di kampung bahwa untuk mengukur seberapa jauh ke-NU-an seorang ustadz atau da’i sangatlah mudah; cukup dengan cara melihat muatan dan ekspresi ceramahnya “terasa” marah ataukah ramah? Cukup sederhana dan masuk di akal. Untuk terus menciptakan ekspresi Islam ramah, kita dapat memulainya dengan bibit pondasi tauhid yang dalam tulisan ini saya sebut dengan istilah teologi perdamaian. Wallahu a’lamu.

Penulis:
Winartono (Santri Pondok Pesantren Mamba’il Futuh, Jenu, Tuban)

About Moh Fauzan

"Khoirunnas anfauhum linnas" | ozanoase@gmail.com | fb: /fauzan.gusdurian | twitter/i.g: @fauzan_gd | WA: 082333323578 | Owner OASE Cafe & Literacy

Lihat Juga

Islam Nusantara, Ruang Tengah Moderatisme

Tasamuh.id– Menyerang istilah Islam nusantara dengan kecurigaan, bahkan dianggap sebagai mazhab baru atau bagian dari ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *