Wednesday , June 19 2019
Home / Buku / Semiologi Komunikasi al-Qur’an

Semiologi Komunikasi al-Qur’an

Tidak bisa dibantah, sampai saat ini al-Qur’an telah menyedot perhatian banyak orang, khususnya para intelektual baik di Barat maupun Timur, dari zaman klasik hingga modern. Banyak buku ditulis untuk mengkaji dan mengulas al-Qur’an. Aspek dan tema yang dikaji juga sangat beragam, menggunakan berbagai perspektif dan sudut pandang. Al-Qur’an telah melahirkan budaya tulis yang luar biasa di tengah peradaban umat manusia.

Buku berjudul “Strategi Komunikasi al-Qur’an” ini merupakan bagian dari upaya untuk memahami al-Qur’an sebagai fenomena kemukjizatan yang diyakini tidak pernah ditemukan bandingannya dalam sejarah kitab suci di dunia. Aspek yang dikaji secara serius dalam buku ini adalah bagaimana stilistika al-Qur’an dalam melakukan komunikasi dengan para audien di sekitarnya. Perspektif teori yang digunakan dalam kajian ini pun tergolong baru, yaitu menggunakan pendekatan struktural semiotik. Dengan fokus objek kajiannya pada surat-surat makkiyah.

Pendekatan struktural memandang bahwa sebuah teks hanya dapat dipahami dalam kerangka totalitas (totality) dan keseluruhan (wholenes). Bahkan sebuah teks memiliki unsur-unsur terkecil seperti fonem dan kata. Antara unsur yang satu dengan unsur yang lain, tidak bisa dipisahkan. Semua bagian teks harus dilihat secara utuh dan menyeluruh. Makna sebuah teks hanya dapat dilihat dalam keseluruhan unsur-unsur yang terdapat di dalam teks yang menggunakan bahasa sebagai medium komunikasi.

Sementara semiotika sendiri melihat bahasa sebagai sistem tanda. Suatu kata tidak saja merujuk pada benda yang berada di luar dirinya. Tetapi juga memiliki makna lain sesuai dengan kepentingan penuturnya, yang kadang sama sekali tidak merujuk pada bendanya. Oleh karena itu, bahasa dalam perspektif semiotika dipandang memiliki tingkatan makna, yaitu makna pada tataran literal sekaligus pada tataran kepentingan ideologi penuturnya; makna denotatif dan konotatif.

Secara struktural, al-Qur’an memperlihatkan gaya bahasa yang khas, yaitu totalitas dan koheren. Bahasa al-Qur’an dibangun oleh unsur-unsur, yang satu sama lain tidak bisa dipahami sendiri-sendiri. Unsur leksikal, gramatikal, retorika dan kohesi yang membentuk bahasa al-Qur’an, menunjukkan bahwa gaya bahasa al-Qur’an dibangun oleh sistem tanda yang koheren dan total. Koherensi dan totalitas inilah yang mampu mengabstraksikan struktur wacana al-Qur’an melebihi jangkauan makna tingkat literalnya. Dari situlah pada akhirnya ditemukan nada kepengarangan (authorial tone) dan kekhasan kepengarangan (idiosyncrasy) al-Qur’an. Kekhasan gaya bahasa al-Qur’an ini terlihat jelas dalam surat-surat makkiyah.

Dari sisi tema sentral (mihwar), dinamikan al-Qur’an periode Makah lebih berpusat pada penegasan mengenai otentikasi wahyu dan risalah yang dibawa oleh Nabi Muhammad Saw. Penegasan ini muncul di tengah penolakan keras masyarakat Quraisy dan kaum kafir Makah. Maka, al-Qur’an pun harus menegaskan bahwa dirinya bukan buatan Nabi, apalagi gubahan setan atau jin.

Di tengah penolakan dan bantahan yang sangat kuat seperti itu, al-Qur’an selama periode Makkah melakukan komunikasi melalui tiga pola gaya bahasa, yaitu bahasa sumpah, pertanyaan dan bahasa huruf muqatha’ah. Sumpah merupakan strategi berkomunikasi untuk meyakinkan keraguan audien. Pertanyaan menjadi umpan balik kepada audien atas ketidak-percayaannya terhadap ayat Tuhan, dan ini berarti menantang mereka untuk memberikan jawaban atas penolakan yang dilakukan. Sedangkan huruf muqatha’ah mengisyaratkan modus komunikasi di luar batas penalaran manusia yang dipakai al-Qur’an sebagai respon atas gagalnya komunikasi yang normal antara Tuhan melalui al-Qur’an dan Nabi Muhammad Saw.

Melalui pendekatan struktural-semiotik, buku ini mencermati dan mengulas strategi komunikasi yang dibangun antara Tuhan dengan umatnya melalui Nabi Muhammad Saw dan al-Qur’an. Bagaimanapun teori linguistik modern yang digunakan sebagai perspektif dalam kajian di buku ini kian memperkaya kajian al-Qur’an untuk konteks keninian. Selamat membaca!

Judul Buku   : Strategi Komunikasi al-Qur’an; Gaya Bahasa Surat-surat Makkiyah

Penulis          : Achmad Tohe

Penerbit       : Pustaka Santri

Cetakan        : I, Oktober 2018

Tebal             : viii + 262 hlm, 15,5 cm x 23 cm

ISBN             : 978-602-5963-12-4

Peresensi      : M. Faisol Fatawi (Penerjemah dan Dosen Bahasa dan Sastra Arab UIN Maliki Malang)

About M. Faisol Fatawi

Dosen UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Dilahirkan di Bungah Gresik Jawa Timur. Menempuh pendidikan di MI Hidayatul Mubtadi’in Mojopuro Wetan Bungah (1987), kemudian nyantri di Pondok Pesantren Ihyaul Ulum Dukun Gresik sambil sekolah di MTs Ihyaul Ulum (1990) dan MA Ihyaul Ulum (1993). Hijrah ke Yogyakarta untuk menempuh S1 Bahasa dan Sastra Arab IAIN (sekarang UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta (1997) dan S2 Akidah dan Filsafat Jurusan Filsafat Islam (2004). Sedang S3 bidang Islamic Studies di UIN Sunan Ampel Surabaya. Saat ini, diamanahi sebagai Ketua Lakpesdam NU Kota Malang (2 periode) dan Wakil Ketua LTN NU Jawa Timur.

Lihat Juga

Seksualitas Arab: Antara Tabu dan Realitas

Mula-mula berangkat dari pengalaman menulis perkembangan HIV di The Economist, yang membuat Shereen El Feki ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *