Friday , May 24 2019
Home / Buku / Seksualitas Arab: Antara Tabu dan Realitas

Seksualitas Arab: Antara Tabu dan Realitas

Mula-mula berangkat dari pengalaman menulis perkembangan HIV di The Economist, yang membuat Shereen El Feki tertarik dengan isu seks di dunia Arab. Salah satunya, dipicu oleh betapa kecil jumlah penderita epidemi global ini di kawasan Arab dibanding dengan beberapa kawasan lain seperti Afrika Sub-Sahara, Eropa Timur, dan Asia. Bagaimana bisa di era migrasi massal dan akses instan, salah satu bagian dunia ini tetap kebal terhadap HIV? Apakah mungkin bahwa orang-orang di kawasan Arab benar-benar tidak terlibat perilaku seks berisiko: seperti pemakaian jarum suntik secara bersama, pasokan darah yang terkontaminasi, seks yang tidak aman dan seterusnya?

Ujung dari rentetan pertanyaan ini membawa Shereen lebih lanjut menulis isu dan laju seks hingga menjadi buku yang versi Inggrisnya berjudul Sex and Citadel: Intimate Life in a Changing Arab World ini.

Dari halaman awal buku ini akan kita segera mengetahui betapa peta kehidupan seksualitas Arab masa lampau dan hari ini, merupakan sesuatu yang berbanding terbalik. Seks di wilayah Arab yang jamak cenderung ditransendensikan; dianggap tabu, kini menjadi lain dan mungkin liar. Bahkan dari pusat penelitiannya yang hampir merata di Mesir, kendati Shereen memberi judul bukunya dengan kawasan Arab, diurai fakta baru yang mungkin membuat mata kita membelalak.

Dipaparkan di buku ini, bagaimana pergeseran posisi Mesir masa lalu untuk soal seks yang pernah begitu terbuka, kemudian berubah menjadi yang menyangkal. Dan di masa kini, fenomena itu belum berubah. Kesenjangan komunikasi agama, efek kekangan dan akses pendidikan seks tertutup yang akhirnya menjadi anomali di antaranya, berimplikasi pada kesenjangan ranjang suami-istri juga kelakuan seksual generasi mudanya yang menyimpang (hlm. 176-206).

Belum lagi soal perkawinan di luar pernikahan resmi yang marak dilakukan dengan berbagai bentuk: zawaj ’urfi (pernikahan adat), perkawinan darah (hlm. 51-57), juga zawaj misyaf (pernikahan musim panas) yang pada intinya menikah hanya untuk menuai kesenangan yang lemah ikatan. Pernikahan sekadar sebagai pelarian-pelarian atau melakukan komitmen sebentar atau barangkali memang wisata seks berkedok agama (hlm. 234-280).

Fenomena ini selain dilakukan oleh mereka yang tak ingin pernikahannya diketahui khalayak, mereka yang perkawinannya tak bahagia, sulit dapat restu orangtua, kerap dilakukan juga oleh lelaki yang sudah menikah: mereka yang tak mau terbelenggu formalitas yang njlimet, dan terutama oleh para lelaki kaya petualang seks dari negeri tetangga.

Buku ini bagus karena disusun melalui banyak reportase dan wawancara langsung dari berbagai kalangan: dari masyarakat umum, pekerja (buruh), para pemerhati, hingga konsultan dan terapis untuk topik ini. Menceritakan kompleksitas persoalan seks hingga komersialisasinya yang menghebohkan. Data dan fakta seks di buku Shereen ini nyaris memang seperti joke salah seorang ginekolog yang diwawancarainya: ”Di dunia Arab, seks adalah kebalikan dari olahraga, semua orang berbicara tentang sepak bola, tetapi hampir tidak ada yang memainkannya. Tetapi seks–semua orang melakukannya, tetapi tak seorang pun mau membicarakannya.

Tak ketinggalan para penulis perempuan Arab masa kini, kerap pula meneriakkan topik seks yang beragam, dalam berbagai karya dan buku-buku sastra. Sebut saja Hanan al-Shaykh (Lebanon), Mona Prince (Mesir), Ghada Samman (Suriah) dan yang paling keras adalah Joumana Haddad (Mesir). ”Inilah cara saya memahami dunia, melalui seksualitas. Ketika saya menulis, saya selalu mengatakan saya menulis dengan tubuh saya. Saya bukan orang yang sensual; saya orang yang seksual,” ungkap Joumana, penyair perempuan juga pendiri majalah feminis, Jasad, ini (hlm. 66-78).

Sedikitnya apa yang dilakukan oleh para penulis masa kini itu, menurut mereka adalah reproduksi dari karya-karya besar zaman keemasan erotika Arab. Selain karya sastra, beberapa di antara mereka juga melawan fenomena seksualitas yang kaku dan terbelenggu dengan penafsiran-penafsiran agama yang lebih terkini.

Buku ini tidak hanya didukung dengan data ratusan interview yang investigatif, tapi dilengkapi pula referensi pustaka yang beragam. Salah satu referensi tersebut adalah karya petualangan novelis Perancis, Gustave Flaubert, di Mesir, pada 1849: Voyage en Égypte. Buku Flaubert ini menggambarkan perempuan-perempuan rumah bordil yang sempat dia kencani. Di dalamnya Flaubert tidak hanya menjadi konsumen, namun menggambarkan pergeseran itu sebagai pengamat.

Di Mesir, persoalan migrasi antar negara di kawasan Arab ikut pula memengaruhi transformasi kebudayaan yang mulanya beragam berbalik menjadi serba seragam seperti yang diterapkan di beberapa Negara Teluk. Sebuah kawasan yang seks bukan lagi urusan pribadi, melainkan urusan kehormatan keluarga hingga menjadi urusan otoritas negara dan agama.

Terjadinya konservatisme agama yang cukup signifikan di Mesir juga ditularkan oleh para imigran, pekerja-pekerja tahunan yang kembali ke daerah asalnya. Kawasan Teluk juga dianggap banyak mewarnai ragam persoalan seks di masa terbaru: seperti berkembangnya praktik seks anal dan oral yang tak disukai para ibu rumah tangga, homoseksual, heteroseksual dan berbagai masalah seks lainnya.

Di samping membahas tarik menarik antara tradisi dan tuntutan moral agama dalam berbagai persoalan seksual, buku ini juga membahas fenomena wanita single parent, sunat perempuan antara teori dan persoalan di lapangan, petualangan seks kaum lajang Mesir, lesbian, gay, biseksual, hingga perihal pelecehan yang marak terjadi baru-baru ini.

Alih-alih kembali ke sumber khazanah seksualitasnya sendiri, penetrasi budaya Barat melalui berbagai media yang begitu dahsyat dan bergelombang, malah dimanfaatkan kaum muda Mesir untuk memunguti fragmen-fragmen pengetahuan seksualnya dari sana. Begitu pula film-film produksi dalam negeri yang nota bene dipengaruhi Barat, turut pula memeriahkan dengan segala adegan dan scene erotisnya.

Mari beralih ke Lapangan Tahrir, Kairo, salah satu tempat wawancara Shereen sewaktu terjadi amuk revolusi politik akibat ketidakpuasan terhadap pemerintah. Pembangkangan publik juga meluas di sana sampai para aktivis (muda) harus mendirikan perkemahan yang kata Shereen mirip miniatur Woodstock, serba seks, narkoba, dan rock ’n’ roll.

Lagi pula ketika berurusan dengan penelitian dan survei seksualitas remaja, tidak semua negara di kawasan Arab malu-malu mengakui hasilnya. Sebut saja Tunisia, Maroko, Aljazair, Lebanon, dan Yordania, data survei terkini memberitakan hasil penelitian tentang pola yang muncul, bahwa sepertiga atau lebih kaum muda laki-laki mereka punya aktivitas seksual sebelum menikah (dan sebagian melakukannya dengan banyak pasangan).

Seks yang tabu di Arab barangkali kini telah menjadi revolusi politik laiknya yang terjadi di Lapangan Tahrir, Mesir. Dengan permasalahan kompleks dan sering keluar garis ”otoritas” negara maupun agama. Persoalan seksualitas itu sekarang jadi kian membelit–bukan seperti ular, melainkan—mirip kaligrafi: jika kita menghapus beberapa goresan, maknanya bisa saja berubah. Karenanya, perlu dipahami permasalahannya secara menyeluruh. Dan semuanya telah tersaji secara gamblang, apik dan memikat di dalam buku ini.

***

Judul Buku      : Seks & Hijab: Gairah dan Intimitas di Dunia Arab yang Berubah

Penulis   : Shereen El Feki

Penerjemah     : Adi Toha

Penerbit : Pustaka Alvabet, Jakarta

Cetakan : I, Oktober 2013

Tebal               : xxii + 423 hlm

Peresensi         : Misbahus Surur (esais, mengajar di Jurusan Bahasa dan Sastra Arab, Fakultas Humaniora UIN Maliki, Malang. Kelahiran Trenggalek. Buku kumpulan esai sastranya, Katalogue, segera terbit).

About Admin

"Dari aswaja untuk bangsa" | Admin Utama | tasamuh.id@gmail.com | i.g @tasamuh.id | Lakpesdam Kota Malang

Lihat Juga

Semiologi Komunikasi al-Qur’an

Tidak bisa dibantah, sampai saat ini al-Qur’an telah menyedot perhatian banyak orang, khususnya para intelektual ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *