Wednesday , June 19 2019
Home / Hikmah / Pemuda dan Orang Bijak
https://www.merdeka.com

Pemuda dan Orang Bijak

Seorang pemuda berjalan berhari-hari sebelum dia mencapai istana di puncak gunung tempat orang bijak itu tinggal. Ketika dia tiba, dia menemukan kerumunan orang di istana. Pemuda itu menunggu antrian untuk mendapatkan kesempatan berbicara dengan orang bijak.

Begitu masuk gilirannya, pemuda itu menceritakan tujuan kedatangannya. Orang bijak itu mendengarkan dengan hikmat apa-apa yang disampaikan pemuda.

“Maaf, sekarang waktunya tidak cukup. Anda bisa datang kembali setelah dua jam,” potong orang bijak sambil memberikan sebuah sendok yang berisi tetesan minyak kepada pemuda.

Orang bijak itu meminta pemuda untuk membawa sendok sepanjang keliling di istana, dan berharap dia kembali menemuinya dengan tetap membawa sendok seperti semula.

Pemuda itu berjalan-jalan mengelilingi sudut-sudut istana dengan membawa sendok. Setelah dua jam, pemuda itu kembali menghadap orang bijak.

“Apakah kamu melihat ruang makan? Apakah Anda suka dekorasi di dalamnya, lilin emas? Pernahkah Anda melihat karpet Persia di koridor? Pernahkah Anda melihat lampu gantung di atap?” tanya orang bijak itu.

Pemuda itu bingung dan terdiam seribu kata karena dia merasa tidak melihat apa-apa. Dia takut bahwa jawabannya akan menyinggung perasaan dan merendahkan orang bijak.

“Aku tidak melihat apa-apa. Aku tidak ingin merendahkan Tuan. Aku hanya tertuju pada tetesan minyak yang ada di sendok ini, dan kembali menemui Tuan sebelum waktu berakhir,” jawab pemuda itu penuh sopan.

“Kembalilah keliling, Anda akan melihat keindahan istana ini  dan seluruh isinya!” perintah orang bijak.

Pemuda itu pun melanjutkan kelilingnya lagi, masih membawa sendok minyak. Dia mulai melihat-lihat seluruh isi istana. Dia kagum dengan keindahan dan kemegahan arsitekturnya. Kemudian dia kembali menemui orang bijak itu.

“Mana tetesan minyak yang ada di sendok tadi?” tanya orang bijak itu.

Pemuda itu memandangi sendok dan mendapati minyaknya tumpah.

“Inilah yang hendak saya jelaskan. Wahai anakku, dalam hidup ada banyak peristiwa dan tanggungjawab. Anda harus bisa menjalaninya tanpa melupakan diri sendiri dan kehilangan konsentrasi. Anda harus sadar penuh dan menikmati kehidupan ini dalam setiap saat!” jelas orang bijak itu.[mff]

About M. Faisol Fatawi

Dosen UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Dilahirkan di Bungah Gresik Jawa Timur. Menempuh pendidikan di MI Hidayatul Mubtadi’in Mojopuro Wetan Bungah (1987), kemudian nyantri di Pondok Pesantren Ihyaul Ulum Dukun Gresik sambil sekolah di MTs Ihyaul Ulum (1990) dan MA Ihyaul Ulum (1993). Hijrah ke Yogyakarta untuk menempuh S1 Bahasa dan Sastra Arab IAIN (sekarang UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta (1997) dan S2 Akidah dan Filsafat Jurusan Filsafat Islam (2004). Sedang S3 bidang Islamic Studies di UIN Sunan Ampel Surabaya. Saat ini, diamanahi sebagai Ketua Lakpesdam NU Kota Malang (2 periode) dan Wakil Ketua LTN NU Jawa Timur.

Lihat Juga

Beasiswa Madrasah Literasi untuk Pesantren

Madrasah Literasi untuk Pesantren adalah program pengembangan literasi muda anak bangsa terutama yang ada di ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *