Tuesday , September 17 2019
Home / Kolom / NU dan Misi Penguatan Ekonomi Umat

NU dan Misi Penguatan Ekonomi Umat

Tasamuh.id – Pengurus CabangLembaga Kajian Sumber Daya manusia Nahdlatul Ulama (PC Lakpesdam NU) Kota Malang bekerjasama dengan beberapa lembaga dan badan lain di bawah naungan NU mengadakan kajian rutin seputar “NU dan Penguatan Ekonomi Umat”. Kajian ini merupakan agenda rutinan yang diselenggarakan setiap dua minggu sekali dengan mendatangkan para narasumber ahli dengan kepakaran yang berbeda-beda. Adapun tema yang diangkat berdasarkan isu strategi yang telah ditentukan sebelunya.

Serial kajian kali ini diselenggarakan di Aula Kantor PCNU Kota Malang pada Senin, 2 Sepember 2019 dengan dihadiri beberapa pakar dan praktisi perekonomian, antara lain, Dr Alfin Mustikawan (Pegiat Pemberdayaan Masyarakat dan Ketua ISNU UIN Maliki Malang), Dr H Yuanda Kusuma Lc MA (Wakil Sekretaris Bidang Pengembangan Bisnis PC NU Kota Malang), Dr Muhammad Mahpur (Wakil Sekretaris Bidang Pemberdayaan Ekonomi PC NU Kota Malang), Abdur Rahim (Bendahara Lakpesdam NU Kota Malang), Dr M Faisol Fatawi (Ketua Lakspedam NU Kota Malang), Dr H Achmad Diny H (Katua LTN NU Kota Malang), Fauzan Alfas MH (Pengusaha sekaligus Ketua ISNU Kota Malang), Achmad Tohe PhD (Direktur Da’I Intelektual Nusantara Network/DINUN), Muhammad A Nasir MM (Pengusaha). Juga tampak hadir para mahasiswa, pengusaha, serta pengurus NU lainnya.

Abdur Rahim, salah satu pengurus Lakpesdam NU menyampaikan, secara umum kajian rutin ini bertujuan sebagai sarana silaturrahim dan bertukar fikiran para aktivis NU di semua lintas generasi. Selain juga untuk meningkatkan pengetahuan dan wawasan internal jama’ah.

“Isu-isu strategis diangkat sebagai tema mulai dari serial kesatu hingga kesebelas ini. Pastinya dalam perspektif atau cara pandang insider Nahdlatul Ulama, tapi beberapa juga narasumber ahli dari luar Nahdlatul Ulama dengan perspektif outsider,” imbuh Bendahara Lakpesdam yang akrab dipanggil Kang Idung ini.

Serial kajian kesebalas ini dilaksanakan dengan model lesehan dan ngobrol ilmiah ala warung kopi tersebut mendatangkan pembicara utama, Dr. Mohammad Mahbubi Ali dari International Institute of Advanced Islamic Studies (IAIS) Malaysia. Ia tak lain dan tak bukan merupkana alumni Pondok Pesantren Sidogiri Pasuruan. Sebelum bekerja sebagai pengajar di IAIS Malaysia, ia merupakan peneliti di International Shariah Research Academy for Islamic Finance (ISRA) Malaysia, juga menjabat sebagai konsultan syariah untuk berbagai layanan dan konsultasi termasuk ZICO Shariah Advisory Bhd dan Roosdiono & Partners yang berkantor di Jakarta. Saat ini, ia didapuk sebagai Dewan Pengawas Syariah Affin Islamic Bank Malaysia dan Daar al-Murajaah al-Syariyyah Bahrain.

Mengawali pemaparannya, Mahbubi Ali menyebut bahwa nahdliyin memberikan sumbangan sangat besar jika dilihat dari populasinya di Indonesia. Namun peran ekonominya sebagian besar sebagai obyek pasar, sehingga secara ekonomi tidaklah berdaya. Ia juga menjelaskan, ada dua kendala sekaligus peluang dalam isu pemberdayaan ekonomi yang bisa dilakukan NU sebagai organisasi Islam terbesar di Indonesia. Yang pertama, yang merupakan permasalah utama dalam pemberdayaan ekonomi terutama dalam aspek micro finance adalah likuiditas dan potensi bangkrut. Biasanya lembaga keuangan mikro seperti koperasi maupun baitul mal mengalami kendala secamacam ini dalam perkembangannya. Menariknya, dengan struktur NU yang memiliki lembaga perkonomian, lembaga zakat infak dan sedekah, serta lembaga wakaf, sesungguhnya sangat bisa dimaksimalkan untuk menjadi pioner dalam upaya pemberdayaan ekonomi umat tersebut. Likuiditas dan potensi kolaps ini paling tidak bisa dimitigasi dengan dua model. Yang pertama memaksimalkan jamaah perempuan seperti muslimat, dimana riset membuktikan bahwa nasabah perempuan itu lebih jujur, setia, dan amanah.

Lebih lanjut, alumni Pondok Pesantren Sidogiri asal Pamekasan Madura ini menyebut, strategi atau model berkaca dari kesuksesan Bank Grameen yang dirintis oleh Muhammad Yunus di Bangladesh. Bank ini diawali dengan memberikan pinjaman kecil kepada orang yang kurang mampu, yaitu pinjaman tanpa membutuhkan collateral atau jaminan. Sistem ini dibangun berdasarkan ide bahwa orang miskin memiliki kemampuan yang belum dimaksimalkan. Kredit semacam ini diberikan kepada kelompok perempuan produktif yang masih berada dalam status sosial kurang mampu. Menurutnya, sistem seperti Bank Grameen ini bisa diadopsi oleh NU dengan berbagai lembaga dan potensi jamaahnya.

Cara mitigasi selanjutnya adalah dengan pola tanggung renteng. Model pola ini terinspirasi dari kelompok ibu-ibu arisan. Pola ini, pada awal diterapkan bertujuan untuk pengamanan aset. Hal ini penting, karena sebuah lembaga peminjaman mikro tidak akan bisa bertahan apalagi berkembang, bisa asetnya tidak aman. Menurut pengamatannya, hampir mayoritas kreditur wanita yang menggunakan pola tanggung renteng ini tertib dalam membayar sehingga terhindar dari kredit macet.

Ada beberapa wanita misalnya, Si A yang berhutang, di tanggung oleh Si B. Si B di tanggung oleh Si C. Begitu seterusnya sampai membentuk lingkaran, misalnya sampai sepuluh wanita yang bisa saling menangung hutangnya satu sama lain. Sehingga jika ada satu peminjam saja yang sampai macet, maka masih ada jaminan dari yang lain. Dampaknya akan saling mengingatkan. Adanya komunikasi dan tolong menolong antar sesama peminjam bisa menimbulkan sikap bertanggung jawab menunaikan kewajiban pembayarannya dengan baik.

Disamping mitigasi resiko, yang bisa dilakukan juga pengembangan dalam model pemanfaatan wakaf. Ada permasalahan yang bisa membuat organisasi NU kurang berkembang dalam urusan wakaf. Yaitu mindset fiqh madzhab Syafi’i yang sangat dominan, dan beberapa ‘oknum’ pengurus NU, yang berorganisasi NU untuk kepentingan-kepentingan politik praktis sehingga mengabaikan peran pemberdayaan ekonomi ummat.

Menurutnya, Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ary ketika mendefinisikan Aswaja dalam hal fiqh adalah siapa saja yang mengikuti salah satu dari empat madzhab yaitu Hanafi, Maliki, Syafi’i, dan Hambali. Masalahnya di Indonesia, khususnya warga NU adalah Syafi’i minded. Sehingga peluang pendapat dari madzhab lain, misalnya Hanafi dalam urusan wakaf, sebenarnya bisa diadopsi untuk kemaslahatan yang lebih besar.

Sepertinya perlu ada bahtsul masail mulai level cabang sampai pengurus besar, membahas pengembangan model wakaf-wakaf produktif. Di banyak negara, seperti Malaysia, Arab Saudi, wakaf sudah banyak modelnya. Ada wakaf uang, wakaf korporasi, termasuk wakaf surat berharga seperti saham, reksadana, obligasi syariah (sukuk), hingga investasi. Beberapa model wakaf ini bisa dilakukan dengan tetap menjaga nilai pokok wakaf dan hasilnya digunakan untuk kemaslahatan. Harapannya NU tidak hanya fokus dan mengelola di wakaf tanah untuk kuburan, sekolah, maupun masjid saja, akan tetapi sudah lebih progresif menyesuaikan dengan perkembangan zaman.

Karena itu, diperlukan gerakan secara terstruktur dengan membentuk gerakan nyata untuk membentuk lembaga entitas bisnis yang dikelola secara profesional agar ummat menjadi lebih produktif yang muaranya kehidupan mereka lebih berdaya. Selain juga dibutuhkan komitmen politik dari pemangku kebijakan untuk kemudian diwujudkan oleh penggerak dan eksekutor konsep ini agar bisa terwujud. [Achmad Diny H & Muhammad A Nasir]

Dari kiri: Muhammad A Nasir MM (Pengusaha), Dr Alfin Mustikawan (Pegiat Pemberdayaan Masyarakat dan Ketua ISNU UIN Maliki Malang), Dr H Yuanda Kusuma Lc MA (Wakil Sekretaris Bidang Pengembangan Bisnis PC NU Kota Malang), Dr M Faisol Fatawi (Ketua Lakspedam NU Kota Malang), Dr Muhammad Mahpur (Wakil Sekretaris Bidang Pemberdayaan Ekonomi PC NU Kota Malang), Achmad Tohe PhD (Direktur Da’I Intelektual Nusantara Network/DINUN), Mahasisi Pascasarjarna UIN Maliki Malang, Fauzan Alfas MH (Pengusaha sekaligus Ketua ISNU Kota Malang), Dr. Mohammad Mahbubi Ali (Narasumber), Aktivis Mahasiswwa NU, Abdur Rahim (Bendahara Lakpesdam NU Kota Malang), Ahmad Sihabuddin (Pengusaha), dan Dr H Achmad Diny H (Katua LTN NU Kota Malang)

About Admin

"Dari aswaja untuk bangsa" | Admin Utama | tasamuh.id@gmail.com | i.g @tasamuh.id | Lakpesdam Kota Malang

Lihat Juga

Beasiswa Madrasah Literasi untuk Pesantren

Madrasah Literasi untuk Pesantren adalah program pengembangan literasi muda anak bangsa terutama yang ada di ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *