Friday , May 24 2019
Home / Kolom / Menjadi Santri, Menjadi Muslim Kafah
sumber gambar: http://www.datdut.com

Menjadi Santri, Menjadi Muslim Kafah

Nyantri, sebutan untuk proses belajar Islam di pesantren, merupakan salah satu cara untuk menjadi pribadi muslim yang kafah. Disebut Kafah untuk menunjuk pada upaya totalitas dalam menjalani ajaran Islam yang didasarkan pada ilmu pengetahuan dan keislaman. Hal ini dapat dilihat tidak hanya pada rutinitas yang berkaitan dengan ritual peribadahan saja, seperti shalat jamaah lima waktu dan shalat sunnah: qobliyah, ba’diyah dan sebagainya, melainkan juga dapat diamati bagaimana proses belajar-mengajar yang diterapkan di pesantren. Proses yang demikian lebih dimakanai sebagai tempaan yang membentuk pribadi muslim berpengetahuan luas hingga ke akar-akarnya, sehingga tidak mudah kaget menghadapi berbagai fenomena kehidupan, terlebih ilmu pengetahuan yang ditopang dengan berbagai wacana yang terus mengalami perkembangan semakin pesat.

Setidaknya ada lima mata pelajaran pokok yang harus dipahami betul oleh setiap santri sebagai bekal dalam menjalani kehidupan sehari-hari sebagai seorang muslim taat yang hidup di tengah masyarakat. Kelima mata pelajaran tersebut, yaitu: Pertama, santri mendapat pelajaran (gramatika) bahasa Arab secara intensif yang meliputi ilmu nahwu, sharraf, dan balaghah. Ketiga pelajaran ini merupakan kunci  utama untuk dapat memahami teks Arab sebagai bahasa primer ilmu-ilmu keislaman. Bahkan ada satu pernyataan bahwa, an-nahwu zainu lilfata yukrimuhu haytsu ataa # man lam yakun ya’rifuhu fahaqquhu an yaskuta. Kaidah ini menunjukkan bahwa ilmu nahwu sangat penting dipelajari oleh para pemuda, dan barang siapa yang tidak mengetahuinya maka sebaiknya diam saja. Terlebih bagi mereka yang hendak menyelami ilmu-ilmu keislaman, harus memahami ilmu nahwu terlebih dahulu, karena di dalamnya menjelaskan tentang cara menyusun kalimat dan meletakkan harkat yang benar dan sesuai dengan makna yang diharapkan. Pelajaran ilmu nahwu ini, di pesantren biasanya merujuk pada kitab Nadzom al-Imrity karya Syaikh Syarifuddin Yahya al-Imrithy, (Syarah Mukhtashor Jiddan) Matnu al-Jurumiyyah karya Sayyid Ahmad Zainy Dahlan, kemudian dilanjutkan dengan kitab al-Kafrawi ‘ala Matni al-Jurumiyyah karya as-Sayikh Ismail al-Hamidy dan (Syarah al-Fawakih al-Janiyyah) Mutammimah al-Jurumiyyah karya Abdullah bin Ahmad al-Fakihiy. Tidak hanya hanya al-Imrity yang dihafalkan oleh santri, tetapi mereka juga wajib menghafal nadzoman Alfiyah Ibnu Malik karya as-Syaikh Muhammad Jamaluddin Ibnu Abdillah Ibnu Malik at-Thay yang terdiri dari seribu bait.

Tentu pelajaran di atas masih belum cukup untuk memahami teks Arab karena setiap kata dalam bahasa Arab dapat berubah ke dalam bentuk kata yang lain, oleh karena itu santri juga dituntut untuk mempelajari ilmu sharraf. Mata pelajaran ini selain menjelaskan tentang perubahan bentuk kata, juga menerangkan tentang perubahan makna, termasuk perubahan waktu (fungsi) dalam setiap perubahan kata tersebut. Untuk mempermudah memahami pelajaran ini, santri harus menghafal rumus yang tertulis dalam kitab al-Amtsilah at-Tashrifiyah yang disusun oleh as-Syaikh Muhammad Ma’shum bin Ali. Selanjutnya rumus tersebut dijelaskan secara rinci melalui kitab Kaylaniy karya Abi al-Hasan Ali bin Hisyam al-Kaylaniy dan diperkokoh dengan mengaji kitab Nadhomu al-Maqshud karya as-Syaikh Muhammad Alaysy.

Melalui pemahaman terhadap kedua mata pelajaran di atas, sebenarnya sudah bisa untuk memahami teks Arab secara sederhana. Namun lebih matangnya, jika digenapi dengan pelajaran ilmu balaghah yang meliputi ilmu ma’aniy, bayan, dan badiy’. Karena melalui ilmu ini, santri akan mampu memecah-belah makna yang tersirat dalam teks Arab, terlebih struktur bahasa sastra dengan segala bentuknya yang mendayu-dayu, karena setiap teks tidak hanya membawa arti pada setiap kata-kata, tetapi juga tersirat maksud tertentu yang perlu dipahami secara cerdas dan seksama. Dalam hal ini, pesantren biasanya cenderung merujuk pada kitab Jauharu al-Maknun karya as-Syaikh Abdurrahman al-Akhdlari. Kitab ini cukup rinci dan lihai menjelaskan bagaimana permainan dalam penyusunan kata yang indah beserta makna yang terkandung di dalamnya. Berbekal ketiga pengetahuan inilah santri dapat memahami ilmu keislaman dalam bentuk bahasa primernya-Arab.

Kedua, santri diberikan pelajaran akhlak sebagai bekal utama dalam menjalani kehidupan bermasyarakat, sebab yang dilihat pertama kali oleh masyarakat umum bukan keilmuannya, apalagi agamanya, melainkan sikapnya atau akhlaknya. Bahkan nabi Muhammad bersabda bahwa ia diutus tak lain hanyalah untuk menyempurnakan akhlak. Oleh karena itu, sejak dini, pesantren sudah memupuk para santrinya dengan beberapa kitab yang menjelaskan tentang pentingnya akhlak, di antaranya kitab Ayyuha al-Walad karya al-Imam Abi Hamid Muhammad bin Muhammad al-Ghazali, dan kitab yang paling populer di kalangan masyarakat Nahdliyin, yaitu Ta’limu al-Muta’allim karya as-Syaikh az-Zarnuji.

Pelajaran akhlak di atas tidak hanya sebatas mengajarkan sikap manusia terhadap sesamanya, melainkan juga akhlak kepada Allah, alam sekitar, dan kepada dirinya sendiri. Di dalamnya juga dijelaskan agar kita selalu berhati-hati dalam mengambil sikap, baik tindakan maupun ucapan. Termasuk juga himbauan agar kita selalu menjaga hati, dan menghindari kekufuran mulai dari yang terkecil hingga yang paling besar. Oleh karena itu, penjelasan tentang akhlak di sini akan dilanjutkan pada pembahasan mengenai tasawuf melalui beberapa kitab, seperti Minhaju al-Abidin karya as-Syaikh al-Imam Abi Hamid Muhammad bin Muhammad bin Muhammad al-Ghazali at-Thusiy, al-Manhaju as-Saniyyah karya Sayyid Abdul Wahhab asy-Sya’roniy, Kifayatu at-Qiya’i wa Minhaju al-Ashfiya’i karya Sayyid Bakry al-Makkiy ibn as-Sayyid Muhammad Syathaa ad-Dimyatiy, Maraqi al-‘Ubudiyyah karya as-Syaikh Nawawi al-Jawi, dan kitab Ihya ‘Ulumuddin karya as-Syaikh Imam al-Ghazali. Melalui pelajaran inilah santri akan memiliki pribadi yang santun dan luhur-tahu benar dan salah.

Ketiga, pelajaran Fikih yang harus dipahami secara serius oleh setiap santri. Pelajaran ini merupakan ciri khas yang terdapat dalam Islam, sebab di dalamnya dijelaskan secara rinci tidak hanya mengenai tata cara beribadah, melainkan juga dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Bahkan dalam perkembangannya, banyak bermunculan ‘genre’ dalam pelajaran fikih ini, terutama yang digagas oleh para ilmuwan-akademisi, seperti fikih sosial, fikih muamalah, dan lain sebagainya. Di pesantren, pertama kali para santri digiring untuk memahami tata cara bersuci: wudlu’, mandi besar, dan mengetahui najis dan suci. Lalu dilanjutkan dengan pelajaran tata cara shalat yang benar beserta keutamaan-utamaannya, dan dilanjutkan dengan pelajaran tentang puasa, zakat, haji, mengurus mayyit, darah wanita dan semacamnya. Pelajaran ini wajib diketahui dan siap untuk diamalkan oleh setiap santri, dan umat Islam secara umum. Dalam hal ini pesantren biasanya merujuk pada kitab Fathu al-Qorib karya Muhammad bin Qosim al-Ghazziy as-Syafi’e, Minhaju al-Qowim karya Syihabuddin Ahmad bin Hajar al-Haytamiy al-Makiy as-Syafi’e, Kasyifatu as-Saja karya as-Syaikh Abi Abdi al-Mu’thi Muhammad Nawawi al-Jawiy, Sullamu at-Taufiq karya as-Syaikh Muhammad Nawawi, dan Fahul Mu’ien karya as-Syaikh Zainuddin al-Malibari.

Lebih lanjut, tak lupa pesantren juga memberikan pendidikan mengenai bab nikah berikut dengan tata cara menggauli pasangannya dengan baik dan benar, sesuai dengan ajaran Islam. Penjelasan tentang pernikahan di sini banyak merujuk pada beberapa kitab yang telah disebutkan di atas. Sedangkan mengenai bab jima’ hampir semua pesantren merujuk pada kitab Qurratu al-‘Uyun karya as-Syaikh Abi Muhammad Maulana at-Tihamiy Kanuni al-Idrisiy al-Husniy. Kitab ini selain sedikit menyinggung tentang pernikahan, secara spesifik juga menjelaskan tentang adab ‘berhubungan ranjang’ mulai dari do’a sebelum dan sesudah berhubungan, waktu yang dianjurkan, beberapa posisi berhubungan yang tepat, dan lain sebagainya. Hal ini penting diketahui oleh santri tidak hanya untuk memuaskan hasratnya saja, melainkan juga untuk mempersiapkan (produksi) generasi umat yang lebih baik.

Keempat, santri dibekali dengan pelajaran tauhid sebagai pondasi keimanan mereka dengan merujuk pada beberapa kitab, terutama yang bermadzhab al-Asy’ariyah, seperti kitab Jauharu at-Tauhid karya as-Syaikh Burhanuddin Ibrahim bin Ibrahim bin Hasan al-Laqanni dan kitab Tijanu ad-Diraari fi at-Tauhid karya as-Syaikh Ibrahim al-Bajuri. Pelajaran tauhid ini dipadukan dengan penjelasan mengenai tasawuf-sebagaimana yang telah disebutkan di atas. Dengan demikian tidak perlu diragukan lagi soal keyakinan para santri, sebab mereka tahu betul mana yang bid’ah, murtad, kafir, dan sebagainya, sehingga tak perlu lagi diadakan pemurnian tauhid bagi mereka karena sudah mengenyam ilmu tauhid dengan matang dan digenapi dengan pelajaran tasawuf.

Kelima, di pesantren diajarkan beberapa kitab tafsir al-Quran, salah satunya yang menjadi rujukan utama ialah Tafsir Jalalain karya Jalaluddin al-Mahalli dan Jalaluddin as-Suyuthi. Terkadang di pesantren juga ditambahi mengaji beberapa kitab tafsir lainnya, seperti Ibnu Katsir karya Imaduddin Abu al-Fida’ Ismail bin Katsir, Tafsir al-Qurthubi karya Abu Abdillah Muhammad bin Ahmad bin Abi Bakr bin Farh al-Anshori al-Khazraji al-Andalusi al-Qurthubi, dan banyak kitab tafsir lainnya. Di samping itu, santri juga diajarkan ilmu Hadist secara spesifik. Misalnya melalui kitab Riyadlotu as-Solihin yang disusun oleh ulama besar, Imam Abu Zakariya Yahya bin Syaraf an-Nawawi. Kitab ini memuat hadist-hadist shohih yang diriwayatkan oleh ulama hadist terkemuka, di antaranya Imam Muslim, Imam Bukhori, Imam Tirmidziy, Imam Abi Daud, Imam Nasai dan lain-lain. Pelajaran ini cenderung diampuh oleh kelas tingkat akhir, atau dengan sistem sorogan di masjid yang disampaikan langsung oleh pengasuh pesantren.

Semua mata pelajaran di atas merupakan satu-kesatuan yang tak terpisahkan yang harus dikunyah-renyah oleh setiap santri. Selain mereka belajar kepada seorang guru (ustadz dan kiai), mereka juga dituntut untuk mampu memahami sendiri dengan cara terus mengulang-ulang dari apa yang telah dipelajarinya, karena masih banyak ribuan kitab lainnya yang perlu ditelisik lebih lanjut. Dari sinilah menjadi santri merupakan kesempatan terbesar untuk menyelami samudera ilmu yang tidak ada bandingannya, terutama bagi mereka yang ingin mendalami ajaran Islam secara kafah. [Madiun, 18 Februari 2019]

Penulis: Iftitah (alumnus Bahasa dan Sastra Arab UIN Maulana Malik Ibrahim Malang dan S2 Ilmu Sastra UGM Yogyakarta. Kini sedang menyelesaikan studi Pascasarjana Filsafat Islam di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta).

Penyelia Aksara: Abdur Rahim Ahmad

About Admin

"Dari aswaja untuk bangsa" | Admin Utama | tasamuh.id@gmail.com | i.g @tasamuh.id | Lakpesdam Kota Malang

Lihat Juga

Islam Nusantara, Ruang Tengah Moderatisme

Tasamuh.id– Menyerang istilah Islam nusantara dengan kecurigaan, bahkan dianggap sebagai mazhab baru atau bagian dari ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *