Monday , March 25 2019
Home / Buku / Menebar Semangat Jihad Melawan Korupsi

Menebar Semangat Jihad Melawan Korupsi

“Innamaa yakhsya Allaha min ‘ibaadihil Ulamaau”

Kata jihad seringkali diasosiasikan pada tindakan kekerasan (intoleran). Sebagai lafadz pada dasarnya ia netral. Sehingga tidak bisa kita menyalahkan sepenuhnya persepsi publik yang mengkonotasikan terma tersebut menjadi lebih berarti negatif. Pandangan awam yang cenderung dangkal (at glance) tersebut salah satu penyebab dominan adalah ‘tafsir’ segelintir kelompok puritan yang kerap diekspresikan dalam aksi intoleran bahkan hingga mewujud aksi terorisme. Buku Jihad Nahdlatul Ulama Melawan Korupsi dalam konteks di atas mampu mengisi ruang pemaknaan.
Dengan pendekatan (nilai) ke-NU-an makna jihad menemukan konteks yang tepat. Koripsi adalah suatu bentuk kebatilan yang pengaruhnya (impact) tidak kalah membahayakan. Meski begitu, rasanya kampanye anti korupsi tidak segarang kampanye “rokok membunuhmu” dan tidak melebihi popularitas perdebatan (isu) penistaan beragama dalam hal terpaan ke khalayak. Ini tentu menjadi satu “pekerjaan-rumah” yang harus disengkuyung bersama.
Melalui upaya Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dan sentuhan “tangan” ramah penggerak NU, kampanye anti korupsi bisa memasuki spektrum yang lebih luas jangkauannya dan efeknya lebih bisa menjamah ‘lorong-lorong’ sempit masyarakat grassroot. Bahkan dalam konteks Nahdliyin, hadirnya buku ini turut mengingatkan kembali penggerak NU untuk turit serta dalam jihad yang mulia ini.
Para kyai NU dari dulu memiliki multi fungsi di masyarakat. Mereka layaknya oase bagi problem ummat (public). Apa lagi sampai hari ini di beberapa desa (terutama basis Nahdliyin), para kyai sebagai sesepuh/pinisepuh menjadi rujukan pencarian solusi. Mereka yang mayoritas berlatar pendidikan pesantren (ngaji) mau tidak mau harus bisa menjawab masalah. Masalah itu bisa berupa keluhan sakit gigi hingga konflik politik lokal kampung. Fungsi ini lah yang lambat-laun mulai tergerus. Dengan upaya jihad bersama melawan korupsi ini semoga bisa menarik lebih peran para kyai dan elemen lainnya untuk turut andil.
Buku jihad melawan korupsi ini pun tidak luput dari pendekatan kearifan ala qowaid al-fiqh yang sarat prinsip luhur nilai Islam. Dengan bahasa sederhana buku ini hadir untuk umum, tidak hanya (konsumsi) kaum santri. Meski ini adalah buku yang muncul dari konteks “proyek” (top-down), ia tidak hanya harus dibaca, tetapi juga patut diimplementasikan dalam rangka menjaga kepentingan (kemaslahatan) publik.
Selamat menikmati. Semoga bermanfaat.
Kopi mencerahkan idemu,
Kretek menemani persahabatanmu
Dan…
Korupsi membunuh (bangsa)mu….

Buku: (Pengantar Baca Buku Jihad NU Melawan Korupsi)
Peresensi : Winartono

About Winartono

Dilahirkan di Desa Kenanti Kecamatan Tambakboyo Tuban. Alumni Pondok Pesantren Manbail Futuh Beji Jenu Tuban ini menyelesaikan S1 di Sastra Inggris (S.S) UIN Maulana Malik Ibrahim Malang dan S2 Ilmu Komunikasi (M.I.Kom) FISIP Universitas Brawijaya. Saat ini sedang diamanahi sebagai Wakil Sekretaris Lakpesdam NU Kota Malang dan Sekretaris PC ISNU Kota Malang.

Lihat Juga

Seksualitas Arab: Antara Tabu dan Realitas

Mula-mula berangkat dari pengalaman menulis perkembangan HIV di The Economist, yang membuat Shereen El Feki ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *