Friday , May 24 2019
Home / Kolom / Memahami Pengertian Bid’ah
http://www.taufiq.net/2016/11/jumlah-kafir-bertambah.jpg

Memahami Pengertian Bid’ah

Istilah bid’ah berasal dari bahasa Arab,  yaitu dari akar kata b-d-‘a  yang berarti ‘menciptakan sesuatu yang belum pernah ada sebelumnya’.  Dalam kehidupan beragama Islam,  khususnya di Indonesia,  kata ini seringkali digunakan oleh sebagian orang untuk mendeskriditkan sebagian lainnya sebagai tuduhan melenceng dari agama atau berarti sesat.

Imam Izzuddin bin Abdussalam dalam kitabnya al-Qawaid al-Kubro menjelaskan bahwa bid’ah adalah perbuatan yang tidak pernah dinyatakan/dilakukan pada masa Rasulullah Saw.

Definisi yang disampaikan oleh Imam Izzuddin itu menegaskan bahwa bid’ah adalah sesuatu yang baru yang belum pernah ada sebelumnya.  Namun demikian,  tidak semua yang baru harus dilarang atau dianggap sesat.  Bid’ah di sini tidak selamanya mengandung pengertian negatif.

Oleh karena itu,  Imam Izzuddin menjabarkan lebih lanjut tentang  macam-macam bid’ah. Menurutnya,  bid’ah dapat dikelompokkan menjadi lima macam. Pertama,  bid’ah wajibah yakni bid’ah yang harus dilakukan. Contoh dari bid’ah ini adalah mempelajari ilmu Nahwu. Tanpa ilmu Nahwu al-Qur’an tidak akan dapat dipahami padahal ia adalah kalam Allah yang menjadi sumber hukum utama dalam Islam. Maka,  belajar ilmu Nahwu adalah wajib jika seseorang ingin memahami al-Qur’an. Padahal mempelajari ilmu ini tidak pernah diperintahkan oleh baginda Rasulullah Saw.

Kedua,  bid’ah muharramah yakni bid’ah yang dilarang. Dalam hal ini Imam Izzudin mencontohkan aliran Murji’ah,  Qadariyah,  Jabariyah dan Mujassimah sebagai bid’ah yang diharamkan.

Ketiga,  bid’ah mandubah yakni bid’ah yang disunnahkan.  Contohnya adalah membangun sekolah dan shalat tarawih. Pada zaman nabi Saw. sekolah belum pernah ada. Demikian pula baginda nabi Saw. melakukan shalat di malam Ramadhan dengan qiyamullail,  bukan dengan nama shalat tarawih. Shalat tarawih baru dilakukan pada masa khalifah Umar bin Khattab.

Keempat,  bid’ah makruhah yakni bid’ah yang dimakruhkan. Menurut Imam Izzudin contohnya adalah menghiasi mushaf dengan aneka warna atau ornamen masjid.

Kelima,  bid’ah mubahah yakni bid’ah yang dibolehkan seperti bermewah-mewah dalam hal makan,  minum, berbaju dan bertempat tinggal.

Dari,  paparan singkat tersebut maka dapat ditarik benang simpul bahwa bid’ah tidak selamanya bermakna negatif dan harus dijauhi. Kemaslahatan dan mafsadah menjadi kata kunci penting yang tidak bisa dipisahkan dengan makna bid’ah.  Sejauh bid’ah mendatangkan kemaslahatan bagi kehidupan dan peradaban umat manusia,  maka bid’ah bisa menjadi makna yang positif. Namun sebaliknya,  jika malah melahirkan mafsadah (kerusakan) maka bid’ah menjadi hal yang negatif.

Kita musti merenungkan apa yang dikatakan oleh Imam Jalaluddin Assuyuti dalam bukunya Husnul Maqsid fi Amalil Maulid,  yaitu “nafyul ilmi la yalzamu minhu nafyul wujud”. Bahwa tidak adanya pengetahuan tidak lantas mengharuskan seseorang untuk menafikan sesuatu yang ada (wujud). Perkembangan dan semua temuan yang ada sekarang ini tidak harus didahului oleh pengetahuan sebelumnya.  Atau dengan kata lain,  temuan-temuan baru yang sekarang ini ada tidak bisa dianggap batal (sia-sia atau tidak absah) hanya lantaran karena sebelumnya tidak ada pengetahuan yang terkait dengannya.

Sumber bacaan: 
Izzuddin bin Abdussalam,  al-Qawaid al-Kubro,  vol ll,  (Damaskus,  Dar al-Qalam, 2000). Jalaluddin Assuyuti,  Husnul Maqsid fi Amal al-Maulid (www. almoslem.net)
Penulis :
M. Faisol Fatawi
(Khadim Ma’had Taswirul Afkar)

About Winartono

Dilahirkan di Desa Kenanti Kecamatan Tambakboyo Tuban. Alumni Pondok Pesantren Manbail Futuh Beji Jenu Tuban ini menyelesaikan S1 di Sastra Inggris (S.S) UIN Maulana Malik Ibrahim Malang dan S2 Ilmu Komunikasi (M.I.Kom) FISIP Universitas Brawijaya. Saat ini sedang diamanahi sebagai Wakil Sekretaris Lakpesdam NU Kota Malang dan Sekretaris PC ISNU Kota Malang.

Lihat Juga

Islam Nusantara, Ruang Tengah Moderatisme

Tasamuh.id– Menyerang istilah Islam nusantara dengan kecurigaan, bahkan dianggap sebagai mazhab baru atau bagian dari ...

One comment

  1. fatkhur rokhman y

    matur nuwun pencerahanipun yai

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *