Tuesday , February 19 2019
Home / Kolom / Masa Depan Pengembangan Pariwisata Halal di Indonesia (2-Habis)
http://aceh.tribunnews.com

Masa Depan Pengembangan Pariwisata Halal di Indonesia (2-Habis)

Arus Baru Perekonomian Islam dalam Kancah Internasional

Ekonomi Islam adalah bagian penting dari ekonomi global saat ini. Ada tujuh sektor ekonomi Islam yang telah meningkat secara signifikan, yaitu kuliner, keuangan Islam, industri asuransi, fashion, kosmetik, farmasi, hiburan, dan pariwisata dimana keseluruhan sektor itu mengusung konsep halal dalam setiap produknya.

Di beberapa negara di dunia, terminologi wisata syariah menggunakan beberapa nama yang cukup beragam diantaranya Islam Tourism, Halal Friendly Tourism Destination, Halal Travel, Muslim-Friendly Travel Destinations, Halal Lifestyle, dan lain-lain. Pariwisata syariah dipandang sebagai cara barucara untuk mengembangkan pariwisata Indonesia yang menjunjung tinggi budaya dan nilai-nilai Islami. Selama ini wisata syariah dipersepsikan sebagai suatu wisata ke kuburan (ziarah) ataupun ke masjid. Padahal, wisata syariah tidak diartikan seperti itu, melainkan wisata yang di dalamnya berasal dari alam, budaya, ataupun buatan yang dibingkai dengan nilai-nilai Islam.

Berdasarkan data dari PEW Research, populasi Muslim adalah populasi terbesar di dunia yang mencapai angka 1,7 miliar jiwa, dan menurut Thomson Reuters Global Islamic Economy Report 2017/2018, konsumsi Muslim adalah terbesar di dunia di enam sektor yaitu makanan, pariwisata, pakaian, farmasi, media/rekreasi, dan kosmetik sebesar US $2 triliun atau 11,9% dari komsumsi masyarakat di dunia dan angka tersebut di atas konsumsi masyarakat Tiongkok di enam sektor tersebut sebesar US $1,8 triliun atau 11,3% dari konsumsi masyarakat di dunia. Berdasarkan data tersebut, dapat diketahui bahwa Global Halal Market adalah  High Growth Market dan bukan lagi ceruk pasar, melainkan menjadi salah satu pasar utama.

Sejalan dengan Booming Global Halal Market, Industri Pariwisata Dunia beberapa dekade terakhir ini mengalami perkembangan yang fenomenal. Bagi Indonesia Pariwisata merupakan penyumbang PDB, Devisa dan Lapangan Kerja yang paling mudah dan murah. Selain itu menurut SICTA-WTO (Standar Internasional Classification of Tourism Activities- World Trade Organization), pariwisata memberi dampak ekonomi yang besar mencakup 185 kegiatan usaha yang sebagian besarnya dalam jangkauan UKM.

Negara Indonesia sebagai Negara kepulauan terbesar yang memiliki 88% populasi Muslim terbesar di dunia, yakni sebesar 207.176.162 jiwa, lebih dari 17.000 pulau, 300 suku, 800.000 masjid merupakan negara yang memiliki potensi yang sangat besar dalam pengembangan pariwisata halal karena pada dasarnya budaya Indonesia sudah memiliki DNA gaya hidup halal (Halal lifestyle).

Namun dari hasil laporan lembaga riset dan peringkat industri pariwisata halal Crescentrating bersama Master Card, Global Muslim Travel Index (GMTI) 2015, Indonesia berada di urutan keenam tujuan wisata halal dunia, di bawah Malaysia dan Thailand. Crescentrating menilai Indonesia harus berusaha lebih keras jika ingin melangkahi Malaysia dan Thailand dalam mengembangkan wisata halal. Menurut pendiri dan CEO Crescentrating Fazal Bahardeen bahwa Indonesia belum begitu agresif dalam mempromosikan wisata halal seperti negara tetangga Malaysia dan Thailand. Indonesia juga belum mengintegrasikan promosi pariwisata halal ke dalam program pariwisata nasional, dan membuat paket khusus wisata halal.

Konsep Pariwisata Halal

Istilah pariwisata (tourism) baru muncul di masyarakat kira kira pada abad ke-18, khususnya sesudah Revolusi Industri di Inggris. Istilah pariwisata berasal dari dilaksanakannya kegiatan wisata (tour), yaitu suatu aktivitas perubahan tempat tinggal sementara dari seseorang, di luar tempat tinggal sehari-hari dengan suatu alasan apa pun selain melakukan kegiatan yang bisa menghasilkan upah atau gaji. Pariwisata merupakan aktivitas, pelayanan dan produk hasil industri pariwisata yang mampu menciptakan pengalaman perjalanan bagi wisatawan.

Secara sederhana, pariwisata dimengerti sebagai keseluruhan kegiatan yang berhubungan dengan masuk, tinggal, dan pergerakan penduduk asing di dalam atau di luar suatu negara, kota atau wilayah tertentu. Selain itu juga didefinisikan berbagai macam kegiatan wisata dan didukung berbagai macam fasilitas serta layanan yang disediakan oleh masyarakat, pengusaha, pemerintah, dan pemerintah daerah.

Adapun obyek wisata merupakan potensi yang menjadi pendorong kehadiran wisatawan kesuatu daerah tujuan wisata. Obyek wisata umumnya berdasarkan pada adanya sumber daya yang dapat menimbulkan rasa senang, indah, nyaman dan bersih; adanya aksebilitas yang tinggi untuk dapat mengunjunginya; adanya ciri khusus/spesifikasi yang bersifat langka; obyek wisata alam memiliki daya  tarik  tinggi  karena  keindahan  alam pegunungan, sungai, pantai, pasir, hutan, dan sebagainya; dan memiliki daya tarik tinggi karena memiliki nilai khusus dalam bentuk atraksi kesenian, upacara-upacara adat, nilai luhur yang  terkandung  dalam  suatu  obyek  buah  karya  manusia pada masa lampau.

Mengenai pengertian pariwisata halal, di dalam pasal 1 Peraturan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Indonesia No. 2 Tahun 2014 tentang pedoman penyelenggaraan usaha hotel syariah, yang dimaksud syariah adalah prinsip-prinsip hukum islam sebagaimana yang diatur fatwa dan atau telah disetujui oleh Majelis Ulama Indonesia. Istilah syariah mulai digunakan di Indonesia pada industri perbankan sejak tahun 1992. Dari industri perbankan berkembang ke sektor lain yaitu asuransi syariah, pengadaian syariah, hotel syariah, dan pariwisata syariah.

Definisi pariwisata syariah adalah kegiatan yang didukung oleh berbagai fasilitas serta layanan yang disediakan masyarakat, pengusaha, pemerintah, dan pemerintah daerah yang memenuhi ketentuan syariah. Pariwisata syariah dimanfaatkan oleh banyak orang karena karakteristik produk dan jasanya yang bersifat universal. Produk dan jasa wisata, objek wisata, dan tujuan wisata dalam pariwisata syariah adalah sama dengan produk, jasa, objek dan tujuan pariwisata pada umumnya selama tidak bertentangan dengan nilai-nilai dan etika syariah. Jadi pariwisata syariah tidak terbatas hanya pada wisata religi.

Berdasarkan pengertian di atas, konsep syariah yang tidak bertentangan dengan nilai-nilai dan etika syariah berhubungan dengan konsep halal dan haram di dalam islam. Halal diartikan dibenarkan, sedangkan haram diartikan dilarang.Konsep halal dapat dipandang dari dua perspektif yaitu perspektif agama dan perspektif industri. Yang dimaksud dengan perspektif agama, yaitu sebagai hukum makanan apa saja yang boleh dikonsumsi oleh konsumen muslim sesuai keyakinannya. Ini membawa konsekuensi adanya perlindungan konsumen. Sedangkan dari perspektif industri. Bagi produsen pangan, konsep halal ini dapat diartikan sebagai suatu peluang bisnis. Bagi industri pangan yang target konsumennya sebagian besar muslim, diperlukan adanya jaminan kehalalan produk akan meningkatkan nilainya yang berupa intangible value. Contoh produk pangan yang kemasannya tercantum label halal lebih menarik bagi konsumen muslim.

Menurut Sofyan (2012: 33), definisi wisata syariah lebih luas dari wisata religi yaitu wisata yang didasarkan pada nilai-nilai syariah Islam. Seperti yang dianjurkan oleh Word Tourism Organization (WTO), wisata syariah bukan hanya untuk umat Muslim tetapi juga non Muslim yang ingin menikmati kearifan lokal. Pemilik jaringan Hotel Sofyan itu menjelaskan, kriteria umum pariwisata syariah ialah; pertama, memiliki orientasi kepada kemaslahatan umum. Kedua, memiliki orientasi pencerahan, penyegaran, dan ketenangan. Ketiga, menghindari kemusyrikan dan khurafat. Keempat, bebas dari maksiat. Kelima, menjaga keamanan dan kenyamanan. Keenam, menjaga kelestarian lingkungan. Ketujuh, menghormati nilai-nilai sosial budaya dan kearifan lokal.

Wisata halal adalah pariwisata yang melayani liburan, dengan menyesuaikan gaya liburan sesuai dengan kebutuhan dan permintaan traveler muslim. Dalam hal ini distinasi  yang mengusung prinsip syariah tidak melayani yang melanggar syariat seperti  minuman beralkohol, dan makanan haram lainnya, serta memiliki kolam renang dan fasilitas spa terpisah untuk pria dan wanita. Beda halnya dengan wisata religi seperti ziarah, umrah dan menunaikan ibadah haji dan sebagainya.

Global Muslim Travel Index (GMTI) mengajukan kriteria pariwisata halal. Kriteria ini menjadi tolak ukur dalam pembangunan wisata halal yang dikeluarkan oleh Crescentrating, yang merupakan lembaga konsultan internasional pada sektor pariwisata halal yang dijadikan acuan bagi negara- negara di dunia dalam mengembangkan wisata halal. Juga, menjadi agen perjalanan wisata internasional, maupun komunitas-komunitas lainnya yang fokus pada pengembangan wisata halal. Lembaga ini juga sebagai penilai awal dalam ajang pariwisata halal, juga untuk melihat perkembangan wisata halal mulai dari pelayanan, destinasi, hingga kebutuhan wisatawan Muslim di suatu negara. Melalui Global Muslim Travel Index (GMTI) ini kita juga dapat melihat peringkat negara-negara yang mengembangkan pariwisata halal. Adapun, kriteria Global Muslim Travel Index yang digunakan untuk menilai pembangunan wisata halal di dunia dan dijadikan sebagai standarisasi pembangunan yakni tiga kriteria dengan sebelas indikator, yaitu destinasi wisata ramah keluarga, layanan dan fasilitas wisatawan muslim, dan kesadaran terhadap destinasi wisata dan wisata halal.

Penulis: H. Faizul Abrori (Santri Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo Situbondo; Magister Ekonomi Islam UIN Maulana Malik Ibrahim Malang)

Pemeriksa Bahasa: Abdur Rahim

About Admin

"Dari aswaja untuk bangsa" | Admin Utama | tasamuh.id@gmail.com | i.g @tasamuh.id | Lakpesdam Kota Malang

Lihat Juga

Menjadi Santri, Menjadi Muslim Kafah

Nyantri, sebutan untuk proses belajar Islam di pesantren, merupakan salah satu cara untuk menjadi pribadi ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *