Tuesday , August 20 2019
Home / Kolom / Makna Oleh-oleh di Bulan Ramadhan*

Makna Oleh-oleh di Bulan Ramadhan*

Setiap tahun kita selalu melewati ibadah ramadhan. Sudahkan kita merasakan bahwa ibadah yang kita jalankan selama bulan ramadhan masih sangat sedikit, atau malah yang paling diingat ketika bulan ramadhan adalah suasan berbelanja oleh-oleh khas ramadhan.

Kita tahu bahwa bulan ramadhan adalah syahrur rohmah, syahrul maghfiroh, dan syahrul ‘itkum min an-nar. Ramadhan adalah bulan dimana Allah -Subhanahu wa Ta’ala- melipat gandakan pahala dan akan menghapus dosa-dosa terdahulu bagi mereka yang beriman. Sebuah bulan, dimana membaca satu ayat Al-Qur’an saja laksana menghatamkannya di waktu-waktu yang lain.

Rasulullah Muhammad -shallallahu alaihi wa sallam- dalam khutbahnya pernah berkata: “wahai manusia, sungguh telah datang pada kalian bulan Allah dengan membawa berkah rahmat dan maghfirah. Bulan yang paling mulia di sisi Allah. Hari-harinya adalah hari-hari yang paling utama. Malam-malamnya adalah malam-malam yang paling utama. Jam demi jamnya adalah jam-jam yang paling utama. Inilah bulan ketika kamu diundang menjadi tetamu Allah dan dimuliakan oleh-Nya. Di bulan ini nafas-nafasmu menjadi tasbih, tidurmu ibadah, amal-amalmu diterima dan doa-doamu diijabah. Bermohonlah kepada Allah Rabbmu dengan niat yang tulus dan hati yang suci agar Allah membimbingmu untuk melakukan shiyam dan membaca kitab-Nya (yakni Al-Qur’an Al-Karim).”

Dua hal yang hakiki dalam ibadah ramadhan sebagai “oleh-oleh” dan bekal hidup untuk menjalani bulan-bulan berikutnya. Apakah itu? Apabila kita mengacu pada QS. Al-Baqarah [2] ayat 183, maka “oleh-oleh” dapat kita maknai dengan dua hal, yang pertama adalah ‘taqwa’ (wahai orang-orang yang beriman diwajibkan atas kalian untuk berpuasa sebagaimana telah diwajibkan kepada orang-orang sebelum kalian, agar kalian bertaqwa”). Bahwa siapa saja yang beriman diwajibkan berpuasa dan ibadah Ramadhan lainnya agar kelak lulus dengan gelar Muttaqinalias“sarjana ramadhan”. Dan dengan gelar sebagai orang yang bertaqwa, maka gaya dan perilaku hidup selanjutnya akan jauh dari perilaku kriminal, koruptif, dan perilaku amoral lainnya. Sedangkan yang kedua, bahwa rangkaian ibadah Ramadhan di bulan nuzulul qur’an akan memberi oleh-oleh berikutnya adalah ‘abdan syakuura’ yaitu manusia yang senantiasa bersyukur. Dalam QS. Al-Baqarah [2] ayat 185 diakhir ayat Allah berkata: hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, la’allakum tasykuruun(supaya kamu bersyukur).

Dengan lulus dan mendapat oleh-oleh dari perjalanan ramadhan, maka manusia akan memiliki gaya hidup baru, yaitu migrasi dari perilaku kufur menuju perilaku syukur. Apa perilaku syukur itu? Setidaknya dapat dimaknai dengan beberapa hal, antara lain, ma’rifatun nikmat minal mun’im, yaitu menyadari bahwa segala sesuatu nikmat itu datangnya dari Allah. Sehingga kita tidak boleh takabbur atas segala capaian prestasi kita di dunia; Alqiyaamu bima huwa maksudin mun’im wamahbuubihi,yaitu melakukan segala perbuatan baik sesuai maksud dari pemberian nikmat itu dan melakukan segala sesuatu yang dicintai oleh pemberi nikmat tersebut; dan Alfaroh bi in’amih, yaitu menerima apa saja pemberian Allah tanpa mengeluh sedikitpun karena menyadari bahwa pmberian Allah adalah yang terbaik untuk hambanya.

Pada bagian lain khutbah rasulullah ketika ramadhan, berkata “barangsiapa memuliakan anak yatim di bulan ini, Allah akan memuliakanya pada hari ia berjumpa dengan-Nya. Barangsiapa menyambungkan tali persaudaraan (silaturahmi) di bulan ini, Allah akan menghubungkan dia dengan rahmat-Nya pada hari ia berjumpa dengan-Nya. Barangsiapa memutuskan kekeluargaan di bulan ini, Allah akan memutuskan rahmat-Nya pada hari ia berjumpa dengan-Nya. Barangsiapa melakukan shalat sunnah di bulan ini, Allah akan menuliskan baginya kebebasan dari api neraka. Barangsiapa melakukan shalat fardu baginya ganjaran seperti melakukan 70 shalat fardu di bulan lain.”

Pada bagian lain khutbah rasulullah ketika ramadhan, berkata “barangsiapa memuliakan anak yatim di bulan ini, Allah akan memuliakanya pada hari ia berjumpa dengan-Nya. Barangsiapa menyambungkan tali persaudaraan (silaturahmi) di bulan ini, Allah akan menghubungkan dia dengan rahmat-Nya pada hari ia berjumpa dengan-Nya. Barangsiapa memutuskan kekeluargaan di bulan ini, Allah akan memutuskan rahmat-Nya pada hari ia berjumpa dengan-Nya. Barangsiapa melakukan shalat sunnah di bulan ini, Allah akan menuliskan baginya kebebasan dari api neraka. Barangsiapa melakukan shalat fardu baginya ganjaran seperti melakukan 70 shalat fardu di bulan lain.”

Itulah oleh-oleh khas ramadhan lainnya. Bahwa setelah ramadhan dan di ‘wisuda’ dengan Idul Fitri, kita harus senantiasa memuliakan anak yatim dan du’afa, menjaga persaudaraan antar seiman dan sesama manusia (memanusiakan manusia), serta semakin meningkat ibadahnya.

Selain itu, kata Rosulullah: “Barangsiapa di bulan ini membaca satu ayat Al-Quran, ganjarannya sama seperti mengkhatam Al-Quran pada bulan-bulan yang lain.”Dan Diakhir KhutbahRosulullahmenegaskan:  “Wahai manusia! Sesungguhnya pintu-pintu surga dibukakan bagimu, maka mintalah kepada Tuhanmu agar tidak pernah menutupkannya bagimu. Pintu-pintu neraka tertutup, maka mohonlah kepada Rabbmu untuk tidak akan pernah dibukakan bagimu. Setan-setan terbelenggu, maka mintalah agar ia tak lagi pernah menguasaimu.”

Sungguh, ibarat kita telah melakukan perjalanan jauh dan lama, maka sangat rugi apabila tidak membawa oleh-oleh dari hasil perjalanan tersebut. Bukan aneka takjil dengan berbagai variasinya, kebiasaan ‘ngabuburit’,pesta kembang api dan petasan, bisnis tukar uang baru, dan berbagai tradisi di luar ibadah Ramadhan saja yang berkesan setelah Ramadhan. Melainkan ke-istiqomah-an kita dalam menjaga dan mentradisikan ibadah Ramadhan pada kehidupan lain di luar Ramadhan. Kata Nabi: “ahabbul a’mali ‘indallahi adwamuhaa, wa’in qolla” (bahwa amalan yang paling disukai Allah adalah ke-istiqomah-annya, walaupun itu sedikit.

*Pernah dimuat di lama https://www.kompasiana.com/zoolqar/576357e8b393732a05daa31f/oleholeh-khas-ramadhan-untuk-gaya-hidup

Penulis: Zulkarnain (Malang, Medio Ramadhan 1437 H/17 Juni 2016)

Editor: Abdur Rahim

About Zulkarnain Uwiga

Dosen Fakultas Hukum Universitas Widyagama Malang, yang sedang menempuh program doktoral ilmu hukum pada Fakultas Hukum Universitas Brawijaya dengan konsentrasi hukum pidana. Saat ini diamanahi sebagai Wakil Sekertaris PCNU Kota Malang.

Lihat Juga

Islam Nusantara, Ruang Tengah Moderatisme

Tasamuh.id– Menyerang istilah Islam nusantara dengan kecurigaan, bahkan dianggap sebagai mazhab baru atau bagian dari ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *