Tuesday , February 19 2019
Home / Kyaiku / KHR. DHOFIER MUNAWAR SITUBONDO (1923- 1985)

KHR. DHOFIER MUNAWAR SITUBONDO (1923- 1985)

Diantara sekian banyak daya tarik Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo adalah kekhususn ilmu yang dikembangkan (takhassus) dalam bidang fiqh dan ushul. Pengajaran dan pengembangan kekhususan tersebut diselenggaran di Ma’had Aly yang dimiliki pesantren ini. Sudah banyak ahli fiqh yang pernah digembleng dan diorbitkan di Pesantren Sukorejo: Ma’had Aly. Tahukah Anda siapakah sang arsitek keilmuan di Pondok Sukorejo tempo dulu, sehingga Sukorejo dikenal sebagai gudangnya fuqaha’?

Sang arsitek itu bernama KHR. Dhofier Munawar atau yang lebih dikenal dengan sapaan Syaikh Dhofier. Syaikh Dhofier lah yang diminta oleh pengasuh sekaligus mertuanya sendiri yaitu KHR. As’ad Syamsul Arifin untuk mengurusi segala sesuatu yang berkaitan dengan pengajaran dan pengembangan keilmuan di Pesantren Sukorejo. Apalagi, sejak tahun 1974 hingga beliau meninggal, masih diamanahi jabatan sebagai mansya’ Pesantren yang diasuh oleh mertuanya tersebut.

Syeikh Dhofier dikenal secara luas sebagai ulama yang ‘alim  terutama dalam bidang fiqh, khusyuk dalam beribadah, sederhana, dan sangat kharismatik. Bahkan, Kiai As’ad sendiri konon mengakui bahwa dirinya kalah ‘alim ketimbang menantunya sendiri khususnya dalam bidang fiqh.

Pengembaraan Syaikh Dhofier dalam bidang keilmuan mulai diasah di Pondok Pesantren Annuqayah Guluk-guluk Sumenep. Di pesantren ini, beliau digembleng sendiri oleh kakak iparnya, KH. Abdullah Sajjad. Kiai Abdullah ini adalah suami dari kakak kandung Syaikh Dhofir yang bernama Nyai Shafiyah. Di Guluk-Guluk lah Syaikh Dhofier melahap semua kitab-kitab tentang ilmu alat seperti nahwu dan sharraf. Dengan kata lain, kemampuan membaca kitab turats secara fasih semakin matang dalam gemblengan kakaknya tersebut.

Belum puas menimba ilmu di Annuqayah, Syeikh Dhofier melanjutkan pengembaraannya di Pondok Pesantren Sidogiri, dibawah asuhan KH. Abdul Djalil. Di Pesantren Sidogiri ini, Syeikh Dhofier pernah diangkat sebagai “kelurahan” pondok pesantren. Menurut penuturan beberapa teman sejawat yang semasa nyantri di Sidogiri, Syaikh Dhofier terkenal dengan kewara’an dan ke‘alimannya. Bahkan beliau dikenal sebagai “Macan Sidogiri”. Banyak santri yang antri sorogan kitab kepada beliau di asramanya.

Setelah di Sidogiri, Syaikh Dhofier melanjutkan pengembaraannya ke Pondok Pesantren Lasem Jawa Tengah, asuhan Kiai Maksum Lasem. Di Pesantren ini, beliau konon hanya untuk mencari barokah (tabarrukan) kepada Kiai Maksum Lasem . Dan tidak beberapa lama kemudian, Kiai As’ad memanggilnya untuk membantu Pondok Pesantren Sukorejo.

Kiai kelahiran 1923 tersebut lalu dikawinkan dengan Nyai Zainiyah As’ad. Syeikh Dhofier dan Kiai As’ad sebenarnya masih famili; silsilahnya bertemu di Kiai Ruham, sang kakek. Syeikh Dhofier ini putra bungsu Kiai Munawar bin Kiai Ruham. Pasangan Syaikh Dhofier-Nyai Zai ini akhirnya diberi karunia empat putri dan seorang putra; yaitu Qurratul Faizah, Tadzkirah (meninggal usia 6 tahun), Uswatun Hasanah, Umi Hani’, dan Imdad Ibrahimy. Nama yang terakhir ini kemudian berganti nama menjadi Azaim Ibrahimy (sekarang dikenal sebagai KHR. Azaim Ibrahimy).

Syaikh Dhofier terkenal dengan kealimannya dalam bidang fiqh dan tasawuf. Menurut Syaikh Dhofier, antara fiqh dan tasawuf tidak bisa dipisah-pisahkan. Karena, sebenarnya tasawuf merupakan intisari ilmu fiqh. Sedangkan ilmu balaqhah merupakan intisari ilmu nahwu.

Syaikh Dhofier mengabdikan dirinya, untuk mengembangkan Pondok Pesantren Sukorejo dalam bidang keilmuan. Ia habiskan hari-harinya, untuk mengajar mulai dari kitab yang kecil sampai yang besar. Di antaranya kitab Taqrib, Zubat, Taqrir, Kifayatul Ahyar, Iqna’, Fathul Wahab, dan Tafsir Jalalain. Beliau juga mengarang kitab “Syaribatus Saiqah” dan buku “Leluhur KHR. As’ad Syamsul Arifin”.

Setiap Ramadhan, termasuk Ramadlan 1405, Syeikh Dhofier memberikan pengajian Tafsir Jalalain. Banyak santri, alumni, dan masyarakat yang mengikuti pengajiannya. Sayangnya, saat itu Tafsir Jalalain yang dibacanya tidak seluruhnya tamat. Hanya sepertiga kitab yang berhasil dibaca sebab beliau sakit. Pada tanggal 10 Ramadlan 1405 atau 30 Mei 1985, sekitar jam dua dini hari, Syeikh Dhofier meninggal dunia.

Penulis: TimTabloid Salaf.
Penyelia Aksara: Abdur Rahim Ahmad

About Abdur Rahim

Redaktur Pelaksana TASAMUH.ID

Lihat Juga

KH. Ahmad Jauhari Umar Pasuruan (1945 – 2006)

Syaikh Ahmad Jauhari Umar adalah seorang ulama’ penyebar kitab manaqib Jawahirul Ma’ani. Beliau dilahirkan pada ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *