Wednesday , June 19 2019
Home / Kyaiku / KH. Nachrowi Thohir – Bungkuk
Sumber: foto koleksi keluarga

KH. Nachrowi Thohir – Bungkuk

KH. Nachrowi Thohir – Bungkuk (1900 – 1980)
“Ketahuilah, bahwa kelak, suatu saat nanti tidak hanya santri-santri saja yang menjadi anggota NU. Tapi harus ada yang sarjana, insinyur, dokter, dan yang berpendidikan umum lainnya. Semua itu dibutuhkan untuk menunjang keberadaan NU yang luar biasa besar. Pada saatnya nanti.” Pesan Kiai Nachrowi kepada Kiai Saifuddin Zuhri pada tahun 1928.

Di Malang, pernah ada kiai kharismatik yang mempunyai peran penting dalam pengembangan pendidikan keislaman di Indonesia. Beliau adalah Kiai Nachrowi Thohir yang pertama kali telah mendirikan Madrasah Muslimin Nahdlatul Wathan. Kelak, madrasah ini menginspirasi daerah lain untuk mendirikan madrasah serupa. Seperti apa perjalanan hidup Kiai Nachrowi, dan apa perannya dalam mengembangkan pendidikan Islam di Indonesia? Berikut catatannya.

Kiai Nachrowi Thohir adalah putra bungsu dari ulama kharismatik bernama Kiai Muhammad Thohir atau yang dikenal dengan sebutan Mbah Bungkuk. Selama ini, Mbah Bungkuk dikenal sebagai ulama yang ‘abid (ahli ibadah) dan mempunyai karomah. Peninggalannya adalah Pesantren Miftahul Falah Bungkuk Singosari Malang. Kiai Nachrowi dilahirkan di Bungkuk-Singosari pada tahun 1900 M/1317 H. Kiprahnya sudah terlihat sejak masih muda dan ketika dewasa pun masih menaruh perhatian yang sangat tinggi untuk dunia pendidikan, khususnya bagi masyarakat muslim.

Semasa muda, Kiai Nachrowi menghabiskan waktunya untuk belajar agama kepada ayahnya. Saat itu pesantren yang diasuh Mbah Bungkuk menjadi rujukan tokoh Nahdlatul Ulama dan beberapa tokoh perjuangan lainnya. Dari Mbah Bungkuk, Kiai Nachrowi mempelajari dasar-dasar agama Islam seperti membaca al-Qur’an dan mengaji kitab-kitab tauhid (Aqidatul Awam), ilmu alat seperti Jurumiyah dan Imrithi. Setelah mengaji kepada ayahnya, Kiai Nachrowi Thohir melanjutkan pengembaraanya keilmuannya ke Jampes Kediri untuk belajar kepada seorang kiai kharismatik yang alimul allamah, arif billah,dan taammuq (mendalam) ilmunya bernama Kiai Ihsan Muhammad Dahlan Jampes.

Setelah beberapa waktu di Jampes, Kiai Nachrowi berpamitan kepada gurunya untuk melanjutkan pengembaraan ngangsu kawaruh ke Pondok Pesantren Siwalanpanji Sidoarjo yang diasuh oleh Kiai Ya’qub. Pesantren ini dikenal sebagai basis pelabuhan para ulama-ulama yang nantinya terlibat dalam pendirian Nahdlatul Ulama seperti Kiai M. Hasyim Asy’ari. Kiai Ya’qub sendiri merupakan mertua dari Kiai M. Hasyim Asy’ari. Juga tidak ada keterangan lengkap mengenai waktu yang ditempuh Kiai Nachrowi di pesantren ini. Kemudian, Kiai Nachrowi beranjak ke Pesantren Jamsaren Solo yang diasuh oleh Kiai Idris (w. 1923). Dikisahkan ketika berada di Pondok Jamsaren ini, Kiai Nachrowi bersama teman-teman sesama santri membentuk kelompok diskusi. Kelak, kelompok inilah nantinya yang turut membantu Kiai Nachrowi dalam mengembangkan pendidikan di Jagalan.

Dari Jamsaren, Kiai Nachrowi kemudian ngansu kawaruh ke Pondok Pesantren Syaikhona Muhammad Kholil Bangkalan. Pesantren inilah yang menjadi pelabuhan terakhir dalam pengembaraan keilmuan Kiai Nachrowi Thohir. Namun, ada dua keterangan lain mengenai pondok pesantren yang menjadi pelabuhan Kiai Nachrowi Thohir setelah dari Jamsaren Solo dan sebelum ke Bangkalan yaitu Pondok Pesantren Tebuireng Jombang yang diasuh Kiai M. Hasyim Asy’ari dan diceritakan pula sempat nyantri di Makkah Mukarromah. Hanya saja mengenai kedua pesantren tersebut belum ada keterangan yang lebih lengkap.

Hadir dan Berjuang di Jagalan

Setelah memutuskan untuk pulang kampus dan tinggal di Malang untuk mengabdi kepada masyarakat. Seperti gayung bersambut, Kiai Nachrowi diambil menantu oleh seorang tokoh agama sekaligus saudagar kaya asal Jagalan Kota Madya Malang yang bernama Kiai Abdul Hadi. Kiai Abdul Hadi merupakan orang yang juga memiliki perhatian tinggi dalam dakwah Islam dan pengembangan pendidikan. Atas izin Allah SWT dan inisiatif dari menantunya tersebut, Kiai Abdul Hadi membangun gedung yang akan digunakan sebagai lembaga pendidikan di atas tanah waqof dari Ibu Hj. Maryam. Bangunan dua lantai tersebut tak jauh dari kediaman Kiai Abdul Hadi dan Kiai Nachrowi. Juga terletak di Jagalan Kota Madya Malang. Sedangkan rumah kediaman Kiai Nachrowi dikemudian hari menjadi kantor sekertariat Muslimat NU.

Kiai Abdul Hadi memberikan wewenang dalam mengelola sepenuhnya kepada menantunya tersebut. Kiai Nachrowi sendiri dikenal sebagai tokoh muda yang peduli terhadap pendidikan. Sebagai seorang yang hidup pada masa akhir pemerintahan kolonial, ia melihat banyak sekali ketimpangan dan perbedaan yang sangat mencolok antara komunitas Islam dengan masyarakat lainnya terutama dibidang pendidikan. Inilah yang memicu semangat perjuangan Kiai Nachrowi. Padahal beliau sendiri tidak pernah tercatat sebagai siswa dari sekolah-sekolah yang didirikan oleh pemerintah kolonial. Sementara kemahirannya dalam tulis menulis aksara latin didapatkannya ketika nyantri di Pesantren Jamsaren Solo.

Sebagai langkah pertama, pada tahun 1921, Kiai Nachrowi Thohir mendirikan Madrasah Muslimin Nahdlatul Wathan. Nama Nahdlatul Wathan sendiri dinisbatkan dari gerakan yang dilakukan oleh para ulama nusantara yang dimulai pada tahun 1916. Walaupun tidak ada keterangan lebih lengkap mengenai hal ini, penisbatan nama Nahdlatul Wathan ini tentu bukan tidak beralasan, melainkan menunjukkan jejaring yang dilakukan oleh para ulama dahulu dalam melakukan gerakan untuk tanah air dan mengajarkan Islam secara terstruktur. Terlebih karena Kiai Nachrowi sendiri merupakan jebolan pondok pesantren yang sama dengan para ulama-ulama tersebut.

Keinginan untuk mendirikan madrasah bukan berarti bahwa Kiai Nachrowi tidak mempercayai pendidikan pesantren yang dikenal dengan pendidikan tradisional. Melainkan, ingin melengkapinya dan menyesuaikan dengan kebutuhan masyarakat. Prinsip dan kaidah almuhafadzatu ala qodimis sholih wal akhdzu bil jadidil ashlah (menjaga tradisi lama yang baik dan mengambil tradisi baru yang lebih baik) selalu dipegang teguh oleh Kiai Nachrowi Thohir dalam menapaki langkah-langkah perjuangannya. Pada waktu itu, berkembang anggapan bahwa model pendidikan di pesantren tidak lagi mengakomodir kebutuhan pendidikan generasi muda. Dalam keyakinan Kiai Nachrowi, sistem pendidikan dan materi yang diterapkan di pesantren bukanlah hal buruk bahkan tidak dapat dikesampingkan sebab pesantren merupakan lembaga pendidikan yang paling penting untuk mendidik manusia menurut fitrahnya. Namun, alangkah lebih baiknya apabila komunitas pesantren mendapatkan materi tambahan mengenai materi-materi umum lainnya. Salah satu materi umum yang diperlukan oleh masyarakat muslim terutama generasi muda waktu itu adalah materi baca dan tulis aksara. Sebab, generasi muda yang mengenyam pendidikan di pesantren hanya mengerti dan bisa menulis dengan bahasa arab saja dan tidak untuk bahasa-bahasa lain seperti bahasa latin yang digunakan dalam buku-buku yang beredar, surat menyurat dan segala keperluan administratif lainnya.

Akhirnya, Kiai Nachrowi betul-betul merealisasikan idenya untuk mengadakan penyempurnaan dalam pendidikan yang mencakup sistem pendidikan, materi, metode belajar, dan evaluasi pembelajaran demi tercapainya tujuan. Oleh karenya, Kiai Nachrowi mendirikan Madrasah Nahdlatul Wathan sebagai tonggak berdirinya Madrasah Muslimin Nahdlatul Wathan (1921), Madrasah Muslimat Nahdlatul Wathan (dirintis sejak tahun 1924), dan Hollandsch Inlandsch School (HIS) Nahdlatul Oelama (1939) di daerah Sawahan. Madrasah HIS NO ini merupakan satu-satunya sekolah milik NU di Indonesia. Dari madrasah yang didirikan oleh Kiai Nachrowi Thohir inilah muncul berbagai madrasah lain yang tersebar baik di Malang maupun di luar Malang. Sederet nama tokoh pun muncul sebagai jebolan madrasah ini, diantaranya Prof. Dr. KH. Tolhah Mansoer, Mayor KH. Oesman Mansur, Ibu Khusnul Chotimah Sali sekertaris pertama Fatayat NU, Chotib Sali (kakak dari Khusnul Chotimah), Ahmad Hudan Dardiri, dan lain-lainnya.

Mendirikan Madrasah di Jagalan

Sebagai modal awal mendirikan madrasah yaitu berupa pengalaman Kiai Nachrowi dan bagunan dua lantai yang terdiri dari beberapa ruangan, kantor, papan, dampar (meja pendek), dan tikar (alas untuk tempat duduk). Sementara waktu itu masih jarang bagunan yang terdiri dari dua lantai. Yang ada, salah satunya, adalah bangunan balai kota yang terdiri dari dua lantai juga.

Sebagai putra dari sosok kiai kharismatik asal Singosari dan menantu dari saudagar kaya ternyata tidak menjadi “karpet merah” dalam menjalankan peran sosial di tengah masyarakat. Banyak cerita mengenai hal ini. Misalnya, cerita ketika Kiai Nachrowi ingin mendirkan madrasah untuk anak-anak perempuan.

Berawal dari kesadaran bahwa pendidikan dibutuhkan tidak hanya oleh kaum laki-laki melainkan juga perempuan. Maka, pada tahun 1924 mulailah merintis kelas untuk anak-anak perempuan. Akan tetapi, rupanya keinginan untuk merintis kelas untuk anak-anak perempuan ini banyak pihak yang menentang. Penolakan tersebut berawal ketika Kiai Nachrowi meminta pendapat (sowan) ke kiai-kiai se Malang. Adapun bentuk penolakannya berupa tidak ada tanggapan (diam) sampai penolakan secara langsung. Sebab, waktu itu masih belum lazim bagi anak perempuan menerima pendidikan di sekolah formal.

Melihat tidak ada dukungan, Kiai Nachrowi kemudian mengumpulkan masyarakat terutama para orang tua murid (laki-laki) yang sudah menjadi santri di madrasah. Tentu, tanggapan negatif pun muncul. Berbagai respon negatif tersebut bermacam-macam. Ada yang hanya sekedar bergumam dalam bahasa jawa, “arek wedok onok nak pawon, lapo kathek sekolah barang (anak perempuan tempatnya di dapur, buat apa disekolahkan)”. Bahkan ada pula yang mengancam secara kasar yakni dengan senjata tajam,“lek sampek onok arek wedhok disekolahno, temenan iki sing ate melayang (kalau sampai ada anak perempuan yang disekolahkan, maka ini bakalan melayang)”, sambil menunjukkan golok/parang.

Menyikapi berbagai tanggapan tersebut, Kiai Nachrowi tak patah semangat dan terus bersabar. Beliau kembali berkonsultasi kepada para kiai dan guru-gurunya. Salah satu kiai tersebut memerintahkan Kiai Nachrowi untuk menghadap kepada Kiai Abdul Wahab Hasbullah di Tambakberas Jombang. Mendapatkan perintah tersebut, Kiai Nachrowi langsung berangkat ke Jombang. Di tengah perjalanan dari Malang ke Jombang, Kiai Nachrowi kemalaman dan bersitirahat di sebuah masjid dan tertidur. Di tengah tidurnya, Kiai Nachrowi bermimpi didatangi seseorang dan berkata dengan menggunakan bahasa jawa, “tirokno dungo iki”, kemudian seseorang tersebut melanjutnya dengan bacaan do’a “Allahumma inna nas’aluka al afwa wa al afiyah wa al mu’afah ad da’imah fi ad dini wa ad dunyan wa al akhiroh. Allahumma ahsin ‘aqibatana fi umuri kulliha wa ajirna min hissyi ad dunya wa dzahabi al akhiroh wa finatihima wa baliyyatihima inna ‘ala kulli syai’in qodir.” Wes cukup. Nanti sesampainya di Jombang, kamu akan melihat seseorang yang sedang menggerek burung, dialah yang bernama Kiai Abdul Wahab Hasbullah”, kata orang tersebut mengakhiri percakapan. Kiai Nachrowi kemudian terbangun dan keesokan harinya melanjutkan perjalanan menuju Tambakberas Jombang.

Setibanya di Jombang, beliau kemudian bertanya kepada masyarakat sekitar dan menuju komplek pondok yang ditunjukkan orang-orang. Begitu masuk komplek pondok pesantren Tambakberas, ternyata benar, terlihat seseorang yang sedang menggerek burung. Kiai Nachrowi kemudian langsung menyapa dan mengucapkan salam. Kemudian bertanya orang tersebut apakah benar Kiai Abdul Wahab Hasbullah. Setelah mendapatkan jawaban bahwa orang tersebut adalah Kiai Abdul Wahab Hasbullah, Kiai Nachrowi langsung mengenalkan dirinya yang berasal dari Malang. Belum bicara banyak, serentak Kiai Nachrowi Thohir kaget ketika Kiai Abdul Wahab Hasbullah menanyakan do’a yang diberikan kepadanya dalam perjalanan dan meminta Kiai Nachrowi untuk membacanya. Setelah selesai membacanya, Kiai Abdul Wahab Hasbullah berkata, “Iya benar, insya Allah tujuan sampean berhasil.

Sepulang dari Jombang, ide pendirian sekolah untuk anak-anak perempuan tersebut sudah menyebar kemana-mana bahkan sampai di luar Malang. Dan, mulai banyak anak-anak perempuan yang dititipkan sebagai santri. Karena tidak sedikit yang berasal dari luar Malang, maka Kiai Nachrowi membuka kelas di rumah kediamannya sendiri. Kamar-kamar yang digunakan untuk keluarganya juga digunakan sebagai tempat menginap para santri putri sekaligus menjadi ruang kelas. Santri putri tersebut diantaranya Aminah dan Maryam binti H. Mansur asal Sidoarjo, Khusnul Chotimah Sali asal Jagalan, Marfu’ah asal Sukorejo Pasuruan, Aliyah binti H. Ma’ruf dari Singosari, Malihah dari Karangploso yang nantinya diperistri oleh Jendral Mukhlas Rowi, serta banyak lagi nama-nama lainnya.

Seiring dengan berjalannya waktu, semakin banyak yang mendaftarkan diri sebagai santri di madrasah ini, akhirnya Kiai Nachrowi pergi ke pondok pesantren Jamsaren Solo dan menghubungi teman-temannya ketika dirinya berada di Jamsaren. Alasan lainnya karena Kiai Nachrowi juga aktif dalam konsolidasi pembentukan NU di daerah-daerah sebagaimana tercatat sebagai pendiri dan ketua NU yang pertama di Malang. Kepergian Kiai Nachrowi ke Jamsaren tersebut tampaknya membuahkan hasil yaitu didatangkannya para tenaga pengajar untuk membantu pengembangan pendidikan di Jagalan. Mereka tak lain adalah teman-teman Kiai Nachrowi dalam kelompok diskusi ketika di Jamsaren, antara lain Syaikh Abbas Syato dari Mesir, Kiai Syukri Ghozali dari Salatiga, Kiai Badrussalam dari Solo, Kiai Damanhuri dari Yogyakarta, Kiai Mustafid dari Solo, Kiai Syamsuri dari Solo, Kiai Murtadji Bisri dari Blitar dan kemudian hari ada “Menir” Hasan dari Bandung, Bapak Nur Yaman dari Semarang, Kiai Mas’ud dari Blitar. “Menir” Hasan dan Bapak Nur Yaman ditempatkan sebagai pengajar di HIS NO Sawahan.

Seiring dengan berdirinya Nahdlatul Ulama pada tahun 1926 dimana Kiai Nachrowi Thohir menjadi salah satu muassisnya, maka Madrasah Muslimin Nahdlatul Wathan tersebut berubah menjadi Madrasah Muslimin Nahdlatul Ulama. Begitu pula dengan madrasah untuk anak-anak perempuan berubah menjadi Madrasah Muslimat Nahdlatul Ulama. Dan, pada waktu selanjutnya, ketika pemerintah memberlakukan pendidikan dasar berupa Sekolah Rakyat (SR) tahun 1945, maka sekolah-sekolah yang berada pada level dasar lebih dikenal dengan sebutan SR. Begitu juga madrasah milik Nahdlatul Oelama (NO) dikenal dengan sebutan SR NO.

Penting untuk diketahui bahwa jauh sebelum sekolah-sekolah milik pemerintah memberlakukan peraturan guru harus rajin dan mengenakan pakain rapi seperti dasi, sepatu dan kopyah, madrasah/SR NO Jagalan sudah memberlakukan tradisi-tradisi tersebut: guru harus rajin mengajar, disiplin dan rapi dalam berpakaian.

Sumber:
Wawancara dengan KH. Drs. A. Buchori Amin (santri dan khodim KH. Nachrowi Thohir)
Wawancara dengan KH. Drs. Moensif Nachrowi (putra KH. Nachrowi Thohir)
Penulis:
Abdul Malik Karim Amrullah & Abdur Rahim

About Abdur Rahim

Redaktur Pelaksana TASAMUH.ID

Lihat Juga

KH. Abdul Chalim Leuwimunding (1898 – 1972)

Kiai Abdul Chalim Leuwimunding merupakan salah satu ulama nusantara yang dilahirkan pada Juni 1898 dari ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *