Saturday , January 25 2020
Home / Kyaiku / KH. Ma’shum Ali (1887 – 1933)
sumber:www.mojok.co

KH. Ma’shum Ali (1887 – 1933)

Ma’shum Ali merupakan menantu dari Hadlratussyeikh KH. M. Hasyim Asy’ari Tebuireng Jombang. Nama lengkap Kiai Ma’shum Ali adalah Muhammad Ma’shum bin Ali bin Abdul Muhyi al-Maskumambani,yang lahir pada tahun 1305 H atau 1887 M. Gelar Maskumambani dinisbatkan pada tanah kelahirannya yaitu desa Maskumambang yang terletak di Kecamatan Kawedanan Sedayu Kabupaten Gresik. Adalah putera dari pasangan Kiai Ali dan Nyai Muhsinah. Memiliki beberapa saudara antara lain Kiai Muhammad Mahbub, Kiai Adlan Ali, Mus’idah dan Rohimah. Sedangkan ayahandanya yaitu Kiai Ali tak lain adalah putera dari Kiai Abdul Muhyi yang berasal dari Dukun Gresik, sementara silsilah dari jalur ibu ialah cucu dari Kiai Abdul Djabbar Maskumambang yang telah merintis Pondok Pesantren di wilayah Maskumambang.

Kiai Ma’shum Ali dibesarkan dan dididik oleh Kiai Ali di Pondok Pesantren Maskumambang yang sangat kental dengan nuansa tradisional (salaf). Kiai Ma’shum dididik dengan sangat ketat dan hati-hati hingga kelak bisa dilihat bagaimana besarnya sosok yang sangat terkenal dengan kesufian dan kewira’iannya. Kiai Ma’shum Ali melanjutkan dan memilih untuk mendalami ilmu agama di Jombang, dan akhirnya beliau memutuskan untuk ngangsu kaweruh di Pesantren Tebuireng. Pada saat itu, pesantren ini masyhur dengan tradisi keilmuan keislama seperti fikih dan hadis dibawah asuhan hadratusyaikh. Kiai Ma’shum Ali sendiri termasuk salah satu santri generasi pertama dari pesantren Tebuireng asuhan hadratusyaikh. Kala itu, selain dituntut untuk belajar, para santri juga diharuskan ikut berjuang melawan penjajahan. Selang beberapa waktu di pesantren ini, adik kandungnya.yaitu Kiai Adlan Ali menyusulnya untuk mondok di Tebuireng juga. Kelak, Kiai Adlan Ali ini yang mendirikan Pondok Pesantren Putri Walisongo Cukir.

Bertahun-tahun Kiai Ma’shum Ali mendalami ilmu agama Islam sekaligus khidmad di pesantren Tebuireng. Sejak di pesantren, Kiai Ma’shum termasuk salah satu santri yang tergolong cerdas dalam berbagai bidang Ilmu, diantaranya ilmu falak, hisab, shorof, nahwu, dan berhasil menghafalakan Al-Qur’an. Oleh karenanya, hadratusysyaikh berkeinginan untuk menikahkan dengan puterinya yang bernama Khoiriyah Hasyim. Menurut keterangan yang dapat dihumpun, Kiai Ma’shum lah salah satu santri yang dianggap mampu meneruskan cita-cita hadratusysyaikh untuk menyebarkan ajaran Islam. dalam sebuah artikel yang dimuat di dalam Majalah Semesta, bahwa Hadratusysyaikh menyiapkan penggantinya bukan hanya dengan mendidik puteranya sendiri, melainkan tiap santri yang menonjol kecakapannya dipinang sebagai menantu. Kiai Ma’shum adalah salah satu santri generasi pertama yang cukup menonjol di samping Kiai Baidlowi dan Kiai Idris.

Pernikahan Kiai Ma’shum Ali dan Nyai Khairiyah Hasyim adalah langkah awal didirikannya Pondok Pesantren Seblak yang terletak di sebelah barat Pondok Pesantren Tebuireng. Mendirikan pondok di Seblak sebetulnya adalah keberanian luar biasa sebab ketika itu Seblak dikenal sebagai wilayah hitam, kalangan masyarakatnya masih terbilang awam (abangan).

Pernikahan Kiai Ma’shum Ali dengan Nyai Khairiyah Hasyim melahirkan sembilan keturunan yaitu Hamnah, Abdul Jabbar, Abidah, Ali, Djamilah, Mahmud, Karimah, Abdul Aziz, dan Azizah. Hanya saja, takdir menentukan lain, yang hidup sampai dewasa hanya dua orang yaitu Abidah dan Djamilah. Sementara ketujuh saudaranya meninggal dunia disaat kecil. Kedua putri beliau inilah yang kelak berperan penting dalam meneruskan pondok Pesantren Seblak hingga sekarang.

Pada awal pernikahan, Ma’shum Ali dan Khairiyah tinggal di Pesantren Tebuireng membantu hadratusysyaikh yang kala itu sebagai pengasuh. Pada tahun 1913, Kiai Ma’shum mulai membangun rumah sederhana yang terletak di Dusun Seblak, lalu pada tahun 1921 sedikit demi sedikit membangun Pesantren Seblak. Meskipun telah berhasil mendirikan Pondok Pesantren di Seblak, Kiai Ma’shum Ali tetap istiqomah mengajar di Madrasah Aliyah Salafiyyah Syafi’iyyah (MASS) Tebuireng dan membantu hadratusysyaikh dalam mendidik serta mengarahkan para santrinya.

Kehidupan sehari-hari Kiai Ma’shum Ali dicerminkan sebagai sosok pribadi yang harmonis, baik terhadap keluarga, masyarakat, dan santri. Selain itu, Kiai Ma’shum sering memberikan hadiah kitab kepada sang guru sekaligus ayah mertuanya. Dalam sebuah kisah, pada tahun 1332 H ketika sepulang dari tanah suci Makkan, Kiai Ma’shum membawakan kitab Al-Jawahir Al-Lawami’ sebagai hadiah untuk hadlratussyaikh. Bahkan, kitab As-Syifa yang pernah diberikan dijadikan referensi utama oleh hadlratussyaikh dalam menulis kitab-kitabnya.

Sebagai kiai yang berilmu tinggi sekaligus sosok yang sangat disegani bukan berarti harus meninggalkan pergaulannya bersama masyarakat awam. Bahkan dikenal sebagai kiai yang sangat akrab dengan kalangan bawah dan tidak sedikit diantara mereka yang tidak mengetahui bahwa Kiai Ma’shum Ali adalah seorang kiai pengasuh pondok pesantren. Kiai Ma’shum Ali juga dikenal sebagai ulama sufi dan wira’i. Menurut sebuah cerita saat menjelang wafat, kiai meminta foto-fotonya dibakar. karena beliau tidak ingin identitasnya diketahui banyak orang yang nantinya menimbulkan penyakit hati.

Kiai Ma’shum adalah kiai muda yang banyak talenta, antara lain ahli dalam bidang ilmu falaq yang sekarang dikenal dengan ilmu astronomi, serta ahli dalam bidang ilmu-ilmu alat seperti ilmu balaghoh, nahwu, dan sharaf. Dengan kemampuan dan kecerdasannya, banyak karya fenomenal yang dihasilkannya, seperti kitab Al-Amtsilah At-Tashrifiyah yang menjadi asas ilmu sharaf dan digunakan di berbagai pondok pesantren baik yang salaf maupun yang modern di Indonesia. Kitab tersebut juga mendapatkan aspirasi di timur tengah yang telah dipercaya sebagai kitab shorof rujukan disana.

Kemudian kitab Fathul Qadir yang menjelaskan ukuran dan takaran arab dalam Bahasa Indonesia. Kitab Ad-Durus Falakiyah yang dianggap sebagai buku pegangan yang memudahkan bagi yang kesulitan mempelajari ilmu falak. Karena disusun secara sistematis dan konseptual. Kitab ini berisi ilmu hitung, logaritma, almanak masehi dan hijriah, dan posisi matahari. Alat hitung yang digunakan dalam kitab ini adalah rubu’ mujayyab, yaitu alat hitung astronomi untuk memecahkan permasalahan segitiga bola dalam astronomi. sehingga teori segitiga bola yang digunakan adalah persamaan untuk aplikasi rubu’ mujayyab. Alat hitung ini merupakan alat hitung yang sangat akurat pada zamannya.

Badi’atul Mitsal, kitab ini menjelaskan ilmu falak yang berpatokan menjadi pusat peredaran alam semesta, bukan matahari tetapi teori yang datang kemudian yaitu bumi.terfokus kepenetapan awal hijriah dengan metode hisab haqiqi bil tahqiq. Kitab ini menjadi rujukan utama para ahli falak dan Kementrian Agama RI dalam menetapkan awal bulan hijriah di Indonesia. Di dalam muqaddimah tersebut, Kiai Ma’shum Ali menyebutkan bahwasannya pembuatan kitab yang beliau namai risalah (catatan/tulisan) dilandasi dengan kebutuhan para pelajar di Pulau Jawa yang mendesak dengan perhitungan awal bulan, hilal, dan tahun. Kesulitan para Talib al ilm dalam mempelajari kitab-kitab dan jarangnya mereka mempunyai kitab tersebut.

Romo Kiai Ma’shum Ali wafat pada tanggal 24 Ramadhan 1351 H atau 21 Januari 1933 M pada usia 46 tahun. Wafatnya Kiai Ma’shum merupakan musibah besar terutama bagi santri Tebuireng, karena beliaulah satu-satunya ulama yang menjadi rujukan dalam segala bidang keilmuwan setelah hadratusysyaikh.

Penulis :
Bangkit Mahardika

About Abdur Rahim

Redaktur Pelaksana TASAMUH.ID

Lihat Juga

KH. Abdul Chalim Leuwimunding (1898 – 1972)

Kiai Abdul Chalim Leuwimunding merupakan salah satu ulama nusantara yang dilahirkan pada Juni 1898 dari ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *