Sunday , June 16 2019
Home / Kyaiku / KH. Ali Shodiq Umman (1929 – 1999)
 http://majalahpondokngunut.blogspot.co.id

KH. Ali Shodiq Umman (1929 – 1999)

KH. Ali Shodiq Umman merupakan salah seoarang ulama Indonesia yang lahir di Gentengan, Ngunut, Tulungagung pada tahun 1929. Pemberian nama Umman di akhir tak lain karena merupakan nama ayahnya. Kedua orang tuannya berasal dari Desa Leran, Manyar, Gresik.

KH. Ali Shodiq Umman adalah putra ke-7 dari 18 bersaudara diantaranya: Inti’anah, Moh. Syarif, Markatam, Abdul Syukur, Abdul Ghoni, Umi Sulhah, Amini, Khoirul Anam, Marzuki, dan Kiai Ali Shodiq sendiri. Sementara kedelapan saudara yang lain wafat ketika masih kecil. Belum ditemukan keterangan lebih lengkap mengenai nama-nama kedelapan saudara Kiai Ali Shodiq tersebut.

Dalam catatan Lentera Team (2002) mengenai Kiai Ali Shodiq, disebutkan bahwa pada saat berumur sepasar (dalam hitungan jawa berarti lima hari: kliwon, legi, pahing, pon, wage), Kiai Ali Shodiq kemudian diasuh oleh paman dari pihak ibu yang yang bernama Imam Tabut dan Ibu Urip.

Ali Shodiq muda mulai belajar mengaji, mengeja huruf-huruf Al-Qur’an, dan amaliyah-amaliyah lainnya dibimbing oleh seorang guru yang bernama Pak Mahbub dari daerah Kauman, Ngunut. Ali Shodiq muda termasuk pemuda yang cerdas, semua pelajaran dapat diterima dengan baik, sehingga pada usia kurang lebih 15 tahun, Ali Shodiq muda sudah mendapatkan materi pelajaran ilmu nahwu seperti jurumiyah, dan lain sebagainya. Seusai ngangsu kawaruh dari Pak Mahbub sekaligus tamat dari sekolah rakyat, Ali Shodiq muda berkeinginan untuk ngangsu kaweruh di pondok pesantren dan diantar oleh Pak Mahbub ke Pondok Pesantren Hidayatul Mubtadien Lirboyo yang diasuh oleh KH. Abdul Karim, KH. Marzuki dan KH. Mahrus. Kemudian, ngangsu kaweruh di Pondok Pesantren Krapyak Yogyakarta asuhan KH. Abdul Qadir dan KH. Ali Ma’sum untuk mendalami ilmu-ilmu Al-Qur’an.

Seusai dari Krapyak, pada tahun 1948, ali Shodiq muda pindah ke Pesantren Jampes Kediri yang didirikan oleh KH. Ihsan Ibnu Dahlan atau dikenal dengan sebutan Syaikh Ihsan Jampes, pengarang kitab Sirojut Tholibin (sarah kitab Minhajul ‘Abidin karya Imam Ghozali). Di pesantren Jampes, Ali Shodiq muda ngaji kitab-kita tasawwuf seperti Sirojut Tholibin, Jami’ul Jawami’ dan Asybah wa al-Nadlor. Dalam keterangan juga disebutkan bahwa Ali Shodiq muda pernga ngaji tabarrukan kepada KH. Zainuddin Mojosari Nganjuk, KH. Jazuli Ustman di Pesantren al-Falah Ploso Kediri, KH. Zubair Jawa Tengah, KH. Hasyim Asy’ari Tebuireng Jombang dan KH. Ma’ruf Kedunglo Kediri.

Dikisahkan ketika Ali Shodiq muda pindah dari Jampes ke Lirboyo, sekitar tahun 1958, ada seorang kyai dari Baran Kediri bernama KH. Umar Sufyan menghendaki Ali Shodiq menjadi menantunya, dinikahkan dengan putri kiai Umar Sufyan yang bernama Auliyah (setelah menunaikan ibadah haji kemudian diganti Siti Fatimmatuzzahro).

Pada tahun 1997, KH. Ali Shodiq Umman dengan berat hati meninggalkan rumah mertua beliau di Baran Kediri untuk menunaikan amanah dari gurunya yaitu KH. Mahrus Ali dan KH. Marzuqi Dahlan untuk mengembangkan ilmu dan mendidik masyarakat sekitar daerah Ngunut yang waktu itu masih awam dengan pengetahuan agama Islam. Mayoritas penduduknya merupakan golongan masyarakat abangan, sering menyelenggarakan sabung ayam, judi, jaranan, tayub, santet/jengges, bahkan praktik prostitusi secara terang-terangan.

Berawal dari Langgar

Pada awalnya, kegiatan dakwah Kiai Ali Shodiq dipusatkan disebuah surau/langgar (musolla) yang didirikan paman sekaligus ayah asuhnya, Pak Imam Tabut, sekaligus ikut mengajar pendidikan guru agama di Ngunut. Kegiatan dakwah dimulai dari pengajian Al-Qur’an dan pada bulan ramadhan kemudian membuka pengajian kitab kuning yang diikuti oleh santri-santri Lirboyo dan berlangsung selama 4 tahun (sampai menghatamkan kitab Ihya’ Ulumuddin). Pengajian dilanjutkan pada bulan syawal dibuka pengajian dengan sistem klasikal, meskipun materinya masih disesuaikan dengan kemampuan santri yang ada.

Pada pengajian kitab pasan (bulan romadhon) tahun berikutnya, jumlah santri yang mengikuti semakin bertambah. Oleh karena itu, KH. Ali Shodiq Umman memutuskan tanggal 1 Januari 1967 M / 21 Rajab 1368 H sebagai tanggal berdirinya Pondok Pesantren Hidayatul Mubtadiien Ngunut. Nama yang yang diambil dari nama Pondok Pesantren Lirboyo Kediri dengan maksud tafa’ulan (ngalap ketularan).

Pesantren ini kian lama terus berkembang pesat. Oleh karena itulah, pesantren ini kemudian menyediakan asrama putra dan putri yang murni mempelajari ilmu-ilmu salafy/kitab kuning (sekarang menjadi pondok pusat yang diasuh oleh KH. Adib Minanurrohman Ali, KH. Ubaidillah Ali dan KH. Ahmad Sibtu Yahya). Selain itu, juga dirintis pondok khusus kanak-kanak dengan pendidikan formal SDI Sunan Giri (yang sekarang diasuh oleh KH. Darori Mukmin dan K.H. Badrul Huda Ali), pondok putra Sunan Gunung Jati (yang sekarang diasuh oleh KH. Fathurrouf Syafi’I dan K.H. Ibnu Shodiq Ali), PonPes Putri Sunan Pandan Aran (yang sekarang diasuh oleh KH. Makhrus Maryani dan KH. Minanurrohman Ali), kedua pondok tersebut yang menampung santri dengan pendidikan formal SMPI dan SMUI Sunan Gunung Jati. Pada tahun 2015, berdirilah ponpes Sunan Kalijogo yang diasuh oleh KH. Muhson (cucu menantu KH. Ali Shodiq Umman dan KH. Ahmad (putra KH. Ali Shodiq Umman) dengan jenjang pendidikan formal SMKI Sunan Kalijogo.

Haliyah & Keteladanan

Kiai Ali Shodiq Umman merupakan sosok kiai yang karismatik, karena beliau tidak hanya ta’dhim kepada guru namun juga kepada keluarga atau dzuriyah guru-guru beliau. Hal itu nampak, ketika beliau sowan ziarah ke makam guru-guru beliau dengan melepas sandal dan berjalan jongkok. Dalam satu cerita, ketika Kiai Ali Shodiq dipanggil gurunya yaitu Kiai Marzuqi untuk pergi ke Probolinggo, kemudian Kiai Ali Shodiq mengajak salah seoarang teman santri untuk langsung berangkat. Namun, sebelum berangkat santri itu berkata, kira-kira waktu itu sekitar pukul 10.00 pagi, “wekdal yah menten kok langsung bidal, pinopo sahene mboten mengke mawon?” (Jam segini kok berangkat, sebaiknya apa tidak nanti saja?). Kiai ali Shodiq menjawab, “ora usah mengko-mengko, diutus guru kok disemayani”, (tidak usah ditunda-tunda, diperintah guru kok pakai tempo/diundur-undur).

Kiai Ali Shodiq juga dikenal sebagai sosok yang tidak kemarok (serakah) dan saling menghargai antar sesama. Diceritakan ketika beliau akan mbalah kitab, Kiai Ali Shodiq selalu mencari waktu yang tidak bersamaan dengan qori’ lain agar sama-sama tidak sepi dari pengikut pengajian kitab. Selain itu, juga sosok yang jika akan mengikuti pengajian kitab, selalu memakai kitab baru meskipun sebelumnya sudah pernah mengkajinya secara berulang-ulang.

Ketika waktu mondok dulu, di mata santri-santri lain, Kiai Ali Shodiq dikenal sebagai sosok yang tekun, cerdas dan grapyak (ramah). Menurut Mbah Nasihudin (salah satu santri beliau) ketekunan beliau sulit digambarkan bahkan waktu beliau layaknya hanya untuk muthola’ah dan belajar. Dalam kehidupan sehari-hari beliau ahli tirakad puasa dan juga menerapkan sifat qona’ah. Salah satunya dibuktikan dengan makan sedikit dan sering memakai bengkungan/centhing untuk mengikat perut untuk menahan rasa lapar disebabkan sedikit makan.

Dirindukan Sang Khaliq

Setelah menunaikan ibadah haji yang ketiga pada tahun 1997, kesehatan beliau mulai menurun dikarenakan usia beliau yang beranjak sepuh. Kesehatan beliau menurun tampak saat akan mengimami jamaah yang harus di-papah oleh santri. Namun, dengan rasa sabar dan tabah beliau tetap menjalankan tugas yang beliau emban dengan istiqomah. Pada Jum’at, 23 Juli 1999 M, KH. Ali Shodiq Umman jatuh sakit, kemudian dirawat ke RSI ORPEHA Tulungagung. Selama proses perawatan, kondisi Kiai Ali Shodiq semakin menurun dan akhirnya pada tanggal 10 Agustus 1999 dirujuk ke RS Darmo Surabaya dan dirawat selama empat hari. Dan, takdir Allah SWT pun tiba untuk memaggil Kiai Ali Shodiq pada hari Sabtu, 14 Agustus 1999 M dengan khusnul khotimah.

KH. Ali Shodiq Umman wafat pada usia 71 tahun dengan meninggalkan seorang istri (tujuh bulan kemudian menyusul), 6 putra dan 3 putri, serta 12 cucu. Setelah dilakukannya sholat jenazah sebanyak 47 kali, beliau dimakamkan di makam keluarga (di area komplek Asrama Putra Sunan Gunung Jati).

Sumber:
Lentera Team. Lentera 2002: Siswa Takhtiman Akhir Tingkat Madrasah Hidayatul Mubtadiien Pon. Pes.Ngunut. Ngunut Tulungagung: Team Lentera PPHM Ngunut, 2002.
Biografi Singkat Al-Maghfurlah Hadrotusy Syaikh KH. Ali Shodiq Umman: Pendiri Pon.Pes. Hidayatul Mubtadien Ngunut Tulungagung, Vol.1.
santripegon.blogspot.co.id

Wawancara:
Mbah Nasihuddin (santri generasi pertama dan Mu’allim PPHM Ngunut).
Gus Minnaurrohim (salah satu pengasuh PPHM Sunan Pandan Aran).
Kang Ismail (santri PPHM Ngunut).

Penulis : 
Isti Faiatul Mardiyah Ali

About Abdur Rahim

Redaktur Pelaksana TASAMUH.ID

Lihat Juga

KH. Abdul Chalim Leuwimunding (1898 – 1972)

Kiai Abdul Chalim Leuwimunding merupakan salah satu ulama nusantara yang dilahirkan pada Juni 1898 dari ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *