Tuesday , August 20 2019
Home / Kyaiku / KH. Ahmad Jauhari Umar Pasuruan (1945 – 2006)

KH. Ahmad Jauhari Umar Pasuruan (1945 – 2006)

Syaikh Ahmad Jauhari Umar adalah seorang ulama’ penyebar kitab manaqib Jawahirul Ma’ani. Beliau dilahirkan pada hari jum’at legi tanggal 17 Agustus 1945 pukul 02.00 malam, yang bertepatan dengan hari kemerdekaan Negara Republik Indonesia. Tempat kelahiran beliau di Dukuh Nepen Desa Krecek Kecamatan Pare Kediri Jawa Timur. Muhammad bahri adalah nama beliau sebelum berangkat ibadah haji, beliau putra bungsu dari bapak Muhammad Ishaq.

Meskipun di lahirkan dari keluarga yang kondisi ekonominya kurang, namun beliau mulia dalam hal keturunan. Dari sang ayah, beliau masih keturunan Sultan Hasanuddin bin Sunan Gunung Jati dan dari ibu beliau masih keturunan KH Hasan Besari Tegal Sari Ponorogo Jawa Timur yang juga masih keturunan Sunan Kalijogo. Beliau juga masih terdapat keturunan dari Sayyidina Muhammad SAW baik dari ayah maupun dari ibunya.

Syaikh Ahmad Jauhari Umar dididik langsung oleh ayahanda dengan disiplin pendidikan yang ketat dan sangat keras. Berkat kegigihan dan kedisiplinan ayahnya dalam mendidik dan membimbing beliau, hingga beliau mampu menghafal kitab taqrib sekaligus maknanya dan mempelajari ilmu tafsir Al-Qur’an baik makna maupun nasakh mansukhnya. Beliau juga tidak diperkenankan berteman dengan anak-anak tetangganya dengan tujuan supaya Syaikh Ahmad Jauhari Umar tidak mengikuti kebiasaan yang tidak baik yang dilakukan oleh anak-anak tetangganya.

Syaikh Ahmad Jauhari Umar menikah dengan Sa’idah putri KH As’ad Pasuruan pada tahun 1983 dan dikaruniai 3 orang anak, diantaranya bernama Gus Sholahuddin, Gus Ali dan Gus Sulthon, yang mana dari ketiga putra beliau mempunyai karakter yang berbeda antara satu dengan yang lain. Gus Sholahuddin memiliki sifat yang bijaksana, Gus Sulthon memiliki sifat yang sangat disiplin dan Gus Ali sebagai putra terakhir memiliki sifat yang penyayang.

Di pasuruan, beliau mendirikan sebuah Pondok Pesantren tepatnya di Desa Tanggulangin Kecamatan Kejayan Kabupaten Pasuruan yang diberi nama Pondok Pesantren Darussalam Tegalrejo. Tidak hanya para santri, tetapi beliau juga mengasuh ratusan anak yatim. Dengan asuhan beliau, biaya atas seluruh anak yatim dan santri di pondok tersebut ditanggung oleh pesantren dari hasil panen sawah yang dimiliki oleh pesantren tersebut.

Manaqib Jawahirul Ma’ani

Sebagaimana yang telah dipaparkan di atas, Syaikh Ahmad Jauhari Umar adalah penyebar kitab “Manaqib Jawahirul Ma’any”. Kitab Manaqib Jawahirul Ma’any adalah kitab manaqib yang menjelaskan tentang riwayat hidup Sulthonul Auliya’ Syaikh Abdul Qadir Al-Jilani (Al-Jaelani). Mulai dari kelahirannya, perjalanan beliau menuntut ilmu, karomah-karomahnya sampai pada wafatnya.

Kata manaqib itu sendiri adalah bentuk jamak dari mufrod manqobah yang artinya adalah cerita kebaikan amal dan akhlak perangai terpuji seseorang. Jadi yang mempunyai manaqib hanyalah orang yang baik (sholeh). Misalnya, manaqib Syaikh Abdul Qadir Jilani, manaqib Umar bin Khottob, manaqib Datuk Kalampayan (Syaikh Arsyad Al Banjari) dan lain-lain. Hukum membaca manaqib yaitu boleh karena manaqib juga berisi tentang doa-doa (permintaan) yang ditujukan hanya kepada Allah.

Syaikh Ahmad Jauhari Umar mengajarkan dan mengijazahkan manaqib ini kepada para murid-murid beliau. Dari murid-murid beliaulah manaqib ini kemudian tersebar luas keseluruh nusantara bahkan sampai ke negara tetangga juga. Di dalam kitab manaqib (pada halaman terakhir) juga dijelaskan tentang manfaat dari manaqib tersebut dan cara pengamalannya.

Penulis: Roisatul Islamiah

Editor: Abdur Rahim

About Admin

"Dari aswaja untuk bangsa" | Admin Utama | tasamuh.id@gmail.com | i.g @tasamuh.id | Lakpesdam Kota Malang

Lihat Juga

KH. Abdul Chalim Leuwimunding (1898 – 1972)

Kiai Abdul Chalim Leuwimunding merupakan salah satu ulama nusantara yang dilahirkan pada Juni 1898 dari ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *