Sunday , April 21 2019
Home / Kyaiku / KH. Abdul Fattah Lamongan (1903-1992)
Sumber:: http://2.bp.blogspot.com/-SrBajfXHZF4/U6hGln77zrI/AAAAAAAAAi8/OAjYVKncsbc/s1600/KH+Abdul+Fattah+Siman+Lamongan.png

KH. Abdul Fattah Lamongan (1903-1992)

Disudut Kota Lamongan bagian Timur, tepatnya di desa Siman – Sekaran, lahirlah seorang anak laki-laki pada tahun 1903 dari orang tua yang taat dalam beribadah. Kelak, anak ini menjadi sosok yang sangat dihormati karena kea’liman dan kebijaksanaannya. Anak ini diberi nama dengan Abdul Fattah.

Perjalanan Kiai Abdul Fattah dalam menjelajahi semesta ilmu keagamaan ditempuh dalam waktu yang sangat lama. Semenjak di usia kecil hingga dewasa. Bahkan, sepanjang hidupnya dikenal sebagai orang yang terus menerus belajar. Kegigihan beliau dalam menuntut ilmu tampak dari beliau belajar dari satu pondok pesantren ke pondok pesantren yang lain. Beliau menjelajahi banyak pondok pesantren yang berada di tanah Jawa. Tak kenal lelah dengan fasilitas yang serba terbatas. Beberapa pondok pesantren yang pernah disinggahinya untuk ngansu kaweruh diantaranya: Pesantren Miru asuhan Kiai Shoim, Pesantren Sungegeneng asuhan Kiai Abu Ali, Pesantren Kabalondono asuhan Kiai Khozin, Pesantren Al Falah Langitan asuhan Kiai Abdul Hadi, Pesantren Kasingan Rembang Jawa Tengah asuhan Kiai Ahmad Kholil, Pesantren Tebuireng Jombang asuhan Hadratussyaikh Kiai M. Hasyim Asy’ari, dan di pesantren yang diasuh oleh Kiai Khozin Siwalan Panji Sidoarjo.

Kiai Abdul Fattah menikah dengan Ibu Nyai Marwiyah. Dari pernikahan ini, Kiai Abdul Fattah dan Nyai Marwiyah dikaruniai delapan anak antara lain: Abdul Muhid Fattah, putra sulung yang saat ini mengasuh Pondok Pesantren Al- Fattah; Abdul Majid Fattah, putra kedua yang pernah nyantri kepada Sayyid Muhammad bin Alawi al Maliki al Hasani ini menjadi Ketua Yayasan Pondok Pesantren Al-Fattah dan pada tahun 2013 diamanahi menjadi Ketua NU Lamongan; dan secara berurutan bernama Hambali, Umamah Agus Sya’roni, Abdul Hamid, Agus Ma’mun Fattah, dan Kholid Novianto

Mengenai putra kedua yang bernama Abdul Majid Fattah, Kiai Abdul Fattah pernah menginginkan salah satu putra beliau berguru pada Abuya Sayyid Muhammad bin Alawi al Maliki al Hasani  dan berangkatlah anak kedua karena ia yang dapat melaksanakan titah ayahandanya. Abdul Majid Fattah ngangsu kaweruh dalam asuhan dan didikan Abuya. Setelah tiga tahun bersama Abuya Maliki, ia pun dititahkan untuk pulang karena sudah dianggap cukup berada di Mekkah. Ia pun pulang ke tanah air. Walau ia merasa kurang puas akan ilmu yang didapatkan dari sang Abuya. Namun, titah dari sang Abuya haruslah dipatuhi.

Kiai Abdul Fattah mendirikan pondok pesantren. Tentu itu bukanlah hal yang mudah. Beliau mendapat tanggapan yang kurang mengenakkan di masyarakat desa. Di lingkungan masyarakat Islam yang awam, Kiai Fattah tetap berkeinginan kuat mengubah mindset para masyarakat sekitar melalui pendidikan keagamaan. Berbekal ilmu yang dimiliki, Kiai Fattah berusaha mengajak para masyarakat ngaji secara perlahan dan menggunakan bahasa yang mudah dimengerti. Menurut cerita, di tengah perjuangan berdakwah dan menemui berbagai penolakan tersebut, Kiai Fattah di-rawuhi Nabi Khidir memberikan semangat.

Tepat di tanah yang berada dibelakang rumah, dibangunlah sebuah pondok pesantren. Tanah tersebut milik Kiai Abdul Fattah yang oleh masyarakat dikenal sebagai tanah angker. Pembangungan pun dilakukan pada saat Rabu Kliwon tahun 1942. Pondok tersebut kemudian beri nama Pondok Pesantren Al-Fattah.

Awal mula pengajian yang diadakan, hanya didatangi beberapa orang saja dan itu pun dari tetangga desa. Walau demikian, Kiai Fattah tidak berkecil hati dan tetap meyakini walaupun hanya beberapa orang, dengan kualitas yang baik, kelak akan menjadi mata air dalam kehidupan. Dan mata air itu selalu muncul ditempat yang keruh. Karena kuantitas tidak akan mempengaruhi kualitas. Dibantu oleh istrinya, Hj. Marwiyah, yang senantiasa mendampingi para santri. Sifat qana’ah dan merakyat, Nyai Marwiyah tak pernah sungkan untuk menemani para santri putri walaupun disaat mereka tidur. Ibu Nyai sangat memperhatikan para santrinya, layaknya anak sendiri.
 
Ketauladanan Kiai
Kiai Abdul Fattah dikenal sebagai sosok yang arif dan bijaksana. Beliau berkeyakinan bahwa dengan ilmu pengetahuan seseorang akan memiliki martabat tinggi, baik di dunia dan akhirat. Ilmu pengetahuan dapat ditempuh melalui jalur pendidikan.

Selain itu, Kiai Fattah juga dikenal sebagai sosok yang sifat dermawa. Oleh karenanya sangat dikasihi oleh keluarga, santri maupun masyarakat luas. Beliau membiayai seluruh kebutuhan hidup orang dalem atau biasa juga dikenal dengan khodam. Beliau dikenal dengan sosok pemimpin yang kharismatik dan penuh wibawa, seorang yang wara, selalu menjaga diri dari hal-hal yang syubhat, dan perkataannya seringkali mustajab.

Ada sebuah kisah hidup yang sangat familiar di kalangan santri dan menjadi cerita tersendiri untuk pondok Al Fattah. Dahulu, pernah ada seorang santri yang dapat dibilang berbeda dengan santri-santri lain: pemahaman ngajinya cukup lamban. Santri tersebut telah berguru kepada Kiai Abdul Fattah selama bertahun-tahun, namun tak banyak yang dapat ia pahami. Ia hanya memahami “Bismillah”. Hal itu tak membuatnya putus asa melainkan tetap tekun dan terus bersemangat dalam belajar. Hingga suatu ketika Kiai Fattah meminta santri tersebut pulang dengan berkata “Insya Allah ilmumu berkah”.

Santri tersebut pun pulang berbekal “Bismillah” dan tentu ridho dari Kiai,”Bismillah”. Seperti yang disampaikan sang kiai, ilmu barokah akan mendapatkan tempatnya. Santri itu pun menjadi mata air dalam kehidupan. Ilmu yang didapati selama berguru dengan kiai bermanfaat bagi orang lain. Dalam kehidupannya bermasyrakat, ia melatih tentara Surabaya, mampu berjalan diatas air, serta mampu meramal kematiannya sendiri. Kelak, santri ini dikenal dengan panggilan Kiai “Bismillah”.
 
Kontribusi pada NKRI
Pondok pesantren Al-Fattah tidak hanya sekedar menanamkan pentingnya dalam penguasaan suatu ilmu pengetahuan. Cinta tanah air pun ditanamkan dalam setiap pembelajaran. Kecintaan tanah air adalah sebuah pengabdian selaku rakyat yang menginjakkan tanah ibu pertiwi. Pengabdian karena telah minum dan makan dari tanah ibu pertiwi. Pengabdian karena telah hidup merdeka di tanah air ibu pertiwi.

Pondok pesantren Al Fattah menerjunkan diri dalam memperjuangkan kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Pada tragedy G 30 S PKI tahun 1965, Kiai Abdul Fattah adalah satu-satunya kiai asal Lamongan yang mengalami percobaan penculikan PKI namun dapat lolos. Penculikan pun dilakukan berkali-kali. Namun, berkat lindungan Allah SWT dan kesiagaan para santri upaya penculikan PKI itupun dapat digagalkan.
 
Mengembangkan Al Fattah
Pondok Pesantren yang didirikan oleh Kiai Abdul Fattah mulanya merupakan pesantren salaf hingga akhirnya berkembang sangat pesat dan menyediakan berbagai saluran pendidikan formal. Dibantu oleh para putra-putri beliau, Pesantren Al Fattah ini tetap berdiri kokoh di tengah perkembangan zaman dalam beberapa era. Al Fattah mampu menyesuaikan kebutuhan masa hingga sekarang. Dengan memperpadukan metode pembelajaran klasik dan modern, Al Fattah memiki dua program, yakni Program Khusus dan Reguler. Program Khusus, program yang mengutamakan “ngaji”, dan belajar satu mata pelajaran yang diujiankan untuk tingkat nasional setiap harinya. Uniknya “ngaji” dalam program ini untuk semua usia dan tidak dikenakan biaya. Santri yang mengikuti program ini dilatih untuk mandiri. Salah satu contohnya ialah para santri memasak sendiri untuk kebutuhan pangan mereka. Program reguler layaknya sekolah formal, yakni santri dapat mengikuti program ini dalam tingkat SLTP dan SLTA. Beliau juga membangun asrama bagi para santri BPPT Al Fattah dan SMP Unggulan.

Putra sulungnya yang bernama Kiai Abdul Majid Fattah melakukan pengembangan pondok yang semula bernuansa salaf hingga akhirnya terus berkembang.Kiai Abdul Majid Fattah mendirikan Pondok Pesantren Mazroatul Fattah yang bernaung pada Yayasan Al Fattah. Beliau melakukan inovasi, dikarenakan rasa kurang puasnya sebab pondok tidak menampung dalam semua usia, terutama anak-anak. Pondok Pesantren Mazroatul Fattah diproritaskan untuk anak-anak mulai dari usia yang mencukupi sekolah hingga sekolah. Pondok ini berkomitmen dalam bidang tahfidz Qur’an, berbeda dengan Al Fattah yang lebih condong dalam penguasaan kitab kuning.

Dikisahkan bahwa Kiai Abdul Fattah juga dikenal sebagai seorang kiai yang sangat tradisional. Dalam pembelajaran di sekolah, beliau memisahkan ruang antara laki-laki dan perempuan. Namun, setibanya putra keduanya dari Makkah sontak mengubah mindset beliau bahwa metode-metode pengajaran modern telah berkembang. Hingga sekarang lembaga pendidikan di Al Fattah menggabungkan kelas laki-laki dan perempuan. Hanya satu lembaga Yayasan Pondok Pesantren Al Fattah yakni SMP Simanjaya yang masih menggunakan pola klasik, yakni memisahkan kelas antara laki-laki dan perempuan.

Adapun lembaga dalam naungan Yayasan Al Fattah sebagai berikut: (1) MI Banin Banath didirikan oleh KH. Abdul Fattah(1969); (2) MTs Salafiyah, didirikan oleh KH. Abdul Fattah(1969); (3) SMP Simanjaya, didirikan oleh KH. Abdul Majid(1976); (4) MA Salafiyah, didirikan oleh KH. Abdul Fattah (16 April 1969); (5) SMA Simanjaya, didirikan oleh KH. Abdul Majid(1976); (6) SMA BPPT Al Fatah, didirikan oleh KH. Abdul Majid(1999); dan (7) UB (Universitas Bil Fath) oleh KH. Abdul Madjid Fattah pada tahun 1988.

Perkembangan Al Fatta sampai sejauh ini tidak lepas dari kesungguhan Kiai Abdul Fattah sendiri serta dan dukungan dari keluarga dan masyarakat. Beliau yang giat dan gigih dalam mengembangkan pondok pesantren yang beliau dirikan. Serta, tak henti-hentinya menyebarkan ilmu pengetahuan kepada para santri dan masyarakat. Setiap santri akan merasakan kenengan bersama sosok seorang Kiai Abdul Fattah. Sebab, Kiai Abdul Fattah menghabiskan masa muda hingga masa tua dengan ta’lim wa ta’allum, serta pengabdian kepada tanah air. Hal terus dilakukan hingga wafat pada tahun 1992 dalam menutup usia 89 tahun.
Sumber:
Wawancara dengan Lazim Ali Fathon selaku Santri Kyai Abdul Fatah
Wawancara dengan Fakhria, selaku cicit dari KH.  Abdul Fattah
Wawancara dengan Latifah Fatimah Zahro, selaku santriwati Kyai Abdul Fattah

Penulis:
Apriliani Harahap (Pegiat literasi pesantren dan mahasiswa UIN Malana Malik Ibrahim Malang)
Penyelaras: Abdur Rahim Ahmad

About Abdur Rahim

Redaktur Pelaksana TASAMUH.ID

Lihat Juga

KH. Abdul Chalim Leuwimunding (1898 – 1972)

Kiai Abdul Chalim Leuwimunding merupakan salah satu ulama nusantara yang dilahirkan pada Juni 1898 dari ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *