Friday , May 24 2019
Home / Kyaiku / KH. Abdul Chalim Leuwimunding (1898 – 1972)

KH. Abdul Chalim Leuwimunding (1898 – 1972)

Kiai Abdul Chalim Leuwimunding merupakan salah satu ulama nusantara yang dilahirkan pada Juni 1898 dari pasangan Mbah Kedung Wangsagama dan Nyai Santamah sebagai anak tunggal. Para buyutnya adalah tokoh-tokoh setempat, yaitu Buyut Kreteg, Buyut Liuh, dan Buyut Kedung Kertagam. KH. Abdul Chalim tidak pernah menempuh pendidikan formal, beliau hanya belajar dari pesantren ke pesantren. Beliau pernah belajar di pesantren Trajaya, kemudian meneruskan ke pesantren Kedungwuni, dilanjutkan ke Pesantren Kempek, Cirebon. Saat berusia 16 tahun, beliau melanjutkan belajar ke Mekah sekitar tahun 1914. Sebelumnya dua pamannya telah berada di sana, yaitu H. Ali dan H. Jen.Di Tanah Suci, KH. AbdulChalim memperdalam pengetahuan agama Islam bersama sejumlah santri lain asal Indonesia, salah satunya adalah KH Abdul Wahab Chasbullah.

Semasa hidupnya, Kiai Abdul Chalim pernah empat kali menikah. Saat berusia 21 tahun, beliau menikah dengan seorang gadis Petalangan, kuningan. Tiga tahun kemudian, beliau menikah lagi dengan seorang gadis asal Pasir Muncang Majalengka yang bernama Siti Noor. Istri keduanya selalu mendampingi beliau, termasuk saat beliau membuka pengajian di Kramat Jati Jakarta. Selanjutnya beliau menikah lagi dengan Ny. Konaah sebagai istri ketiga. Di tengah-tengah perjuangannya mengusir penjajahan Belanda seputar berkecamuknya pertempuran Surabaya ketika Resolusi Jihad dikumandangkan, beliau menikahi Ny. Sidik Shindanghajiberasal dari Leuwimundingsebagai istri keempat. Dari keempat kali pernikahan itu, beliau dikaruniai 21 putra-putri. Dari 21 anak tersebut, 15 anak hidup hingga dewasa dan menikah. Mereka adalah Siti Rahmah, Khomsatun, Mafouchat, Ahmad Qowiyyun (Agus Chafid), Rofiqoh, Ahmad Musta’in, Nashihah, Ahmad Mustahdi, Chumaidah, Muntafiah, Chudriah, Ahmad Mustafid, Farihatul Jannah, Siti Halimah, dan Kiai Asep Saifuddin Chalim.

Tahun 1921 karena ayahnya meninggal dunia, maka KH Abdul Chalim kembali ke Majalengka. Di sana beliau kemudian mengabdikan diri sepenuhnya pada dunia pergerakan dan pendidikan. Dari sinilah beliau mulai aktif sehingga menjadikannya sebagai Seorang alim dari Jawa Barat yang menjadi salah satu pendiri NU awal. NU didirikan pada tanggal 31 Januari 1926 di kampung Kertopaten Surabaya. Namanya terabadikan dalam dokumen kepengurusan NU. Meskipun demikian, namanya kurang dikenal oleh masyarakat bahkan pengurus anggota NU sendiri. Masyarakat baru tahu mungkin sedikit saat Gus Dur berziarah ke makam Kiai Chalim di Leuwimunding, Majalengka, Jawa Barat pada Maret 2003.

Sebagaimana banyak dikenal masyarakat, KH. Abdul Chalim juga memiliki kiprah di bidang ekonomi. Hal itu dillihat dari perjuangannya yang lebih dititikberatkan pada pemberdayaan warga NU Jawa Barat. Beliau melakukan penerobosan dengan membentuk berbagai wadah pemberdayaan masyarakat seperti PERTANU (Perkumpulan Petani NU). NU dini juga berperan untuk mensejahterakanmasyarakat sekitar yang mayoritas bekerja sebagai petani.

Di bidang pendidikan KH. Abdul Chalim juga memiliki peranan penting. Hal itu bisa dilihat dari terbentuknya PERGUNU (Perkumpulan Guru NU) dan pendirian lembaga-lembaga pendidikan NU di Jawa Barat lainnya.Dalam perkembangannya, lembaga ini menjadi badan otonom di bawah naungan pengurus besar NU. Meskipun KH. Abdul Chalim terkenal sebagai salah satu ulama yang tidak memiliki pesantren, namun beliau membangun semacam yayasan pendidikan di setiap tempat yang di singgahinya. kiprah dalam bidang pendidikan berwala dari  22 Juni 1922 Kiai Chalim dapat bertemu dengan KH Wahab Hasbullah, berkat bantuan KH Amin dari Praban. Kiai Wahab pun langsung memberi kepercayaan Kiai Chalim untuk mengajar di Nahdlatul Wathon di Kampung Kawatan VI Surabaya. Nahdlatul Wathon adalah organisasi yang didirikan KH Abdul Wahab dan beberapa ulama dengan tujuan pada peningkatan mutu pendidikan Islam, pembentukan kader dan pembinaan juru dakwah. Di sinilah KH. Abdul Chalim juga dipercaya sebagai sekretaris dan tata usaha Nahdatul Watan., yang menjadi inisiator beragam kegiatan dan pengatur administrasi organisasi tersebut

KH. Abdul Chalim juga berkiprah di dunia luar, hal itu terlihat saat beliau masuk anggota komite Hijaz, di mana saat itu beliau menjabat sebagai wakil sekretaris. Munculnya komite hijaz karena kemenangan IbnSa’ud akan membawa dampak perubahan tradisi keagamaan menurut ajaran mazhab, sebab IbnSa’ud dikenal beraliran Wahabi. Pengalan para ulama nusantara yang trauma pada masa lalu yang dipelopori Abdul Wahab amat keras menentang segala pendirian yang tidak sejalan dengan mereka.Dari pemaparan di atas, jelas bahwa KH. Abdul Chalim merupakan tokoh yang memiliki pengaruh yang cukup besar bagi kehidupan nusantara, baik dalam bidang pendidikan, agama, politik dan lainnya. Meskipun beliau tidak meninggalkan pesantren sebagaimana ulama lainnya, namun namanya tetap dikenal dan di abadikan sebagai nama salah satu perguruan tinggi di mojokerto.

Sumber:

Ali Haidar, Nahdatul Ulama dan Islam di Indonesia: Pendekatan Fikih Dalam Politik, Surabaya: Al Maktabah, 2011.

Choirul Anam, Pertumbuhan dan Perkembangan NU,Cet. Ke 3, Surabaya: Duta Aksara Mulia, 2010.

Deliar Noer, Gerakan Modern Islam di Indonesia 1900-1942, Jakarata:LP3ES, 1995.

http://santri.net/sejarah/kisah-islami/kiai-abdul-halim-leuwimunding-dan-kesederhanaannya/.(di unggah pada tanggal 19 November 2016).

Martin van Bruinessen, NU: Tradisi, Relasi-Relasi Kuasa, Pencarian Wacana Baru, Yogjakarta: LKiS, 1994.

Penulis: Amila Raudlotul Azkiyah (Mahasiswa UIN Maulana Malik Ibrahim Malang Jurusan Bahasa dan Sastra Arab)

Penyelia Aksara: Abdur Rahim

About Admin

"Dari aswaja untuk bangsa" | Admin Utama | tasamuh.id@gmail.com | i.g @tasamuh.id | Lakpesdam Kota Malang

Lihat Juga

KH. Ahmad Jauhari Umar Pasuruan (1945 – 2006)

Syaikh Ahmad Jauhari Umar adalah seorang ulama’ penyebar kitab manaqib Jawahirul Ma’ani. Beliau dilahirkan pada ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *