Friday , May 24 2019
Home / Hikmah / Keadilan untuk Menabur Ketakwaan

Keadilan untuk Menabur Ketakwaan

Kalau ada pertanyaan apa itu adil, jawaban secara sederhana adalah sama. Maksudnya, memberi hak pada dua orang atau lebih dengan ukuran dan ketentuan yang tidak berbeda. Jawaban tersebut bisa benar bisa juga salah. Benar ketika unsur- unsur yang menjadi pendukung keberadaan orang yang menginginkan keadilan itu sama. Misalnya dua orang anak yang umur, ukuran tubuh, kelas, minat bakat dan lain-lainnya sama, tentu saja bagiannya harus sama. Tapi jika umur, ukuran tubuh, dan lain-lain pada dua anak tersebut tidak sama, pemberian bagian hak yang sama jelas bukan suatu perbuatan yang adil. Tidak adil artinya keliru atau salah dan dalam kontek kebahasaan, karena tidak adil bisa dikatakan zalim.

Adil adalah meletakkan sesuatu pada tempat yang sebenarnya. Jika orang tua memiliki dua anak dengan umur dan kelas yang berbeda, sikap adilnya adalah dengan memberi hak mereka sesuai dengan keberadaan atau kebutuhannya. Begitu juga jika keduanya terdiri dari laki-laki dan perempuan, tentu saja perlakuan yang sama terhadap mereka bukanlah sikap yang adil. Maka adil bisa diartikan tindakan yang tepat dan proporsional. Adil sangat dibutuhkan dalam segala urusan, bahkan sampai pada organ tubuh yang dimiliki manusia sendiri perlu mendapat perlakuan yang adil. Antara hak tubuh dan batin manusia juga memerlukan keadilan. Misalnya, kapan mata terpejam untuk istirahat, tubuh direbahkan untuk “ngaso” dari segala aktivitas, dan kapan lambung harus diisi untuk asupan energi bagi tubuh.

Kalau fisik biasanya punya tatacara sendiri untuk memanggil agar terpenuhi hak-haknya, seperti datangnya rasa kantuk, rasa lesu karena kelelahan, dan panggilan tertentu karena perut butuh diisi. Tapi bagaimana dengan kebutuhan non-fisik, kebutuhan batin ? sebenarnay ia juga punya tatacaranya sendiri, tapi banyak orang yang tidak memedulikan dan cenderung tidak memahami sehingga terjerumus pada perlakukan tidak adil pada adanya kebutuhan unsur batin tersebut. Tapi siapakah atau apa yang mengatur keadilan pada diri manusia itu sebenarnya, tentu saja otak dan hati yang sinergis agar terhindar dari godaan nafsu yang mengajak pada tindakan yang keliru dan tidak adil. Komunukasi yang intensif antara kecerdasan otak dan kebersihan hati itu bisa menghasilkan kepemimpin yang adil pada diri seseorang. Itulah hati nurani, sebagaimana disebutkan dalam Hadis,”mintalah fatwa pada hati nuranimu”.

Dalam kehidupan sosial kemasyarakatan, keadilan menjadfi syarat mutlak bagi pemimpin. Ia sejajar dengan kejujuran. Bila kejujuran satu tingkat di bawah kenabian (nubuwwah), keadilan satu tingkat di bawah ketakwaan (aqrabu littaqwa). Tidak ada cerita nabi yang tidak jujur, seperti juga tidak ada nabi yang tidak mencerminkan sikap takwa. Bila ada pemimpin yang tampak begitu relijius dengan melaksanakan ritual keagamaan yang nyaris tidak pernah absen, itu bagus. Namun, keduanya hanya kamuflase belaka, jika keadilan tidak menjadi prinsip dalam tata pengelolaan kelembagaannya. Karena itu, jika ingin menggiring masyarakat yang dipimpinnya pada ketakwaan, cukup dengan menerapkan keadilan di segala aspek. Selanjutnya, tinggal keberanian untuk menanggung konsekuensi atau risikonya, jika ada yang merasa terzalimi dengan prinsipnya. Wallahu a’lam. [Malang, 13 Pebruari 2019]

Penulis: Ahmad Kholil (Penulis Buku Islam Jawa, UIN Press, 2008)

About Admin

"Dari aswaja untuk bangsa" | Admin Utama | tasamuh.id@gmail.com | i.g @tasamuh.id | Lakpesdam Kota Malang

Lihat Juga

Pemuda dan Orang Bijak

Seorang pemuda berjalan berhari-hari sebelum dia mencapai istana di puncak gunung tempat orang bijak itu ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *