Friday , May 24 2019
Home / Kolom / Islam Nusantara, Ruang Tengah Moderatisme
Pakar Pengkaji Islam Nusantara, Ahmad Tohe, Ph. D, Prof. KH. Noor Harisudin, M. Fil. I, Prof, Dr. Muzammil Qomar, KHR. Achmad Azaim Ibrahimy, M. Hi

Islam Nusantara, Ruang Tengah Moderatisme

Tasamuh.id– Menyerang istilah Islam nusantara dengan kecurigaan, bahkan dianggap sebagai mazhab baru atau bagian dari Islam liberal itu sendiri adalah reaksi kontra ideologis yang muaranya terletak pada perbedaan kepentingam dan kelompok agama. Apakah kontra wacana terhadap Islam nusantara merupakan konsekuensi terhadap cara pembid’ahan dan pengingkaran terhadap kajian-kajian pemahaman kontekstual Islam dalam persepktif lintas kawasan, historiografi perkembangan Islam Indonesia dan antropologi kehidupan yang turut serta dimaknai sebagai bagian memahami Islam melampaui doktrin-doktrin yang ada.

Islam nusantara harus terus diusung agar tidak terjadi framing yang semata bernilai ideologis, seolah kepentingan NU saja karena memang diktum Islam nusantara muncul ketika Muktamar NU di Jombang 2015. Selain itu tidak juga diframing  anti-NU kedalam pentaqdisan (penyucian/purifikasi) keagamaan. Islam nusantara dikatakan tidak pernah ada dan hanya katabelece dari NU saja. Islam hanya satu, maka kalau ada Islam nusantara berarti itu menyimpang dari Islam itu sendiri. Ini salah satu serangan terhadap wacana Islam nusantara yang sebenarnya serangan itu lebih bersifat kontra-framing untuk saling berebut pengaruh.

Meski geger Islam nusantara tidak lagi terlalu kuat tapi rekam jejak digital masih menyisakan tracking Islam nusantara yang dianggap keluar dari keaslian Islam. PC Lakpesdam NU Kota Malang, LTNU Jawa Timur, Pusat Studi Pesantren dan Pemberdayaan Masyarakat (PSP2M) Universitas Brawijaya dan Ikatan Mahasiswa Alumni Salafiyah Safiiyah (IKMASS) Situbondo yang di Malang masih merasa perlunya menelaah lebih klir Islam nusantara. Kamis, 28 Februari 2019 bertempat di gedung layanan bersama Universitas Brawijaya Malang, Islam Nusantara dibeberkan dengan apik dari berbagai telaah disiplin keagamaan yang berbeda-beda. Tujuannya untuk memberikan suguhan bahwa secara akademik, Islam nusantara dapat dibeberkan dengan telaah historiografi, antropologi, sosiologi, dan bahkan politik.

Khazanah Islam Nusantara perlu didudukkan dalam studi lintas kawasan karena tidak bisa dipungkiri, sejak 15 tahun setelah Rasulullah wafat, terdapat perkampungan muslim di seputaran Aceh. Ini membuktikan adanya ketersambungan Arab dengan nusantara. Persamaan Arab Aceh adalah bukti adanya pergeseran lintas kawasan agama Islam dari Arab ke Aceh. Inilah babak baru Islam nusantara, jelas KHR Achmad Azaim Ibrahimy, pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Asembagus, Sukorejo, Situbondo.

Menurutnya, problematika Islam Nusantara perlu diperjelas kedalam dua hal. Secara ushuli, Islam nusantara memiliki akarnya di Indonesia karena ada dukungan budaya, akademik, kajian keilmuan termasuk bukti-bukti historis, arkheologis dan berbagai manuslrip yang dapat menjadi bukti otentik bahwa perkembangan Islam nusantara didukung oleh berbagai bukti peradaban dan kebudayaan. Ruang ini akan lebih orisinil dan otoritatif secara akademik untuk menjelaskan kebutuhan terhadap penghadiran Islam nusantara. Jadi Islam nusantara adalah sebuah pendekatan kajian untuk memahami konteks persebaran Islam Indonesia, bukan ajaran baru Islam. Tidak relevan jika Islam nusantara dianggap sebagai mazhab baru atau model lain Islam liberal. Oleh karena itu Islam nusantara pun dikembalikan ke model pemahaman akademik ketimbang digadang-gadang sebagai kepentingan NU saja atau politik. Menurut Azaim, Islam nusantara lebih baik jika dikembalikan pada akar sejarah, perkembangan, budaya, yang memang bisa didekati menggunakan bahasa ilmu ketimbang menjadi proyek politik kekuasaan. Azaim justru pesimis dan tidak menguntungkan jikalau Islam nusantara jatuh pada kepentingan ideologis dan politis.

Para Doktor Pegiat Islam Nusantara. Dari kiri, Mohammad Mahpur (Pakar Psikologi Islam), Faisol Fatawi (Ahli Filologi Islam dan Sastra Arab), Abdur Rahim (Filsafat dan Sastra Arab), dan Mohammad Anas (Ahli Filsafat Ilmu & Epistemologi Islam)

Beda lagi menurut Achmad Tohe, pakar tafsir lulusan Universitas Boston Amerika Serikat ini justru menempatkan Islam nusantara lahir dari proyek ideologis. Ideologis dalm konteks kepentingan NU untuk menjaga Islam dari rongrongan kelompok fanatik dan berimplikasi pada perebutan negara dari dasar konstitusi yang sudah purna dengan ideologi Pancasila. Frasa itu diusung saat muktamar NU Jombang 2015 dan melahirkan reaksi dari kalangan luar NU. Tentu basis pertentangannya lahir dari kelompok yang tidak paham atau tidak sepaham. Oleh karena itu, Islam nusantara harus dinaikkan ke tingkatan yang lebih akademis dan metodologis sehingga Islam nusantara tidak rapuh dalam pembicaraan jargon saja. Memang, secara masif Islam nusantara hanya dipahami sebagai jargon dan direaksi berdasarkan sudut pandang penuh prasangka dan pertentangan ideologis sehingga yang berkembang di kelompok penentang pun dikomodifikasi sebatas jargon dan kecurigaan-kecurigaan, persis seperti menentangkan ziarah kubur, slametan dan sebagainya yang identik dengan bid’ah dan sejenisnya. Padahal secara teoritis, sejumlah buku tentang Islam nusantara sudah beberapa dipublikasikan. Di situ, konseptualisasi Islam nusantara menjadi lebih ilmiah dan mendapatkan pemahaman komprehensif. Ahmad Tohe mengajak untuk turut mengembangkan Islam nusantara melampaui tataran ideologis, yakni  berpijak melalui acuan ilmiah, akademis dan metodologis sehingga Islam nusantara akan melahirkan narasi komprehensif yang bisa dipertanggungjawaban secara keilmuan dan keagamaan sebagai praktik beribadah.

Islam Nusantara, Islam Lentur dalam Dakwahnya

Menarik menyimak Mujamil Qomar, Profesor bidang Filsafat Agama dari IAIN Tulungagung, menyatakan bahwa Islam nusantara sebagai sebuah pendekatan, bukan sebagai agama baru. Jika ada yang menyerang Islam nusantara sebagai gagasan liberal dan penuh dengan TBC (Takhayul, Bid’ah dan Churafat) maka anggapan tersebut pun salah kaprah. Mujamil menandaskan, secara historis, perkembangan Islam Nusantara tidak serta-merta sama dengan Arab, terutama paska Nabi wafat, Islam di Arab lebih banyak bertumpu pada pergolakan Aqidah sehingga mudah geger, bahkan melahirkan perang karena memang pendekatan Aqidah lebih kaku.

Islam nusantara justru menemukan formula perkembangannya. Islam lebih lentur karena melebur kedalam pendekatan tradisi. Suatu contoh perjumpaan Islam dalam kebudayaan Jawa, seperti Wayang, munculnya aneka tembang Jawa, Lir Ilir, dan aneka gubahan artistik menjadi salah satu cara berdakwah adalah produk Islam nusantara. Bahkan lebih familier dan setara. Contohnya pertunjukan wayang dari Sunan Kalijaga boleh ditonton siapapun, tua-muda, rakyat biasa, priayi, agama apaun boleh menonton. Mereka semua itu hanya mengambil tiket mengucapkan kalimat syahadat saja sudah boleh menonton wayang secara bebas. Tegas Muzamil Qomar.

Jejak ini membuktikan bahwa perkembangan Islam memiliki ritme yang mencair dan tidak kaku. Pendekatan tradisi dan kebudayaan menciptakan penyampaian ajaran Islam menjadi diterima secara fleksibel, lembut dan bersifat menghibur serta artistik karena diakui masyarakat sudah memiliki karakteristik berbudaya dan bertradisi. Sebagai agama baru, maka proses penyampaiannya butuh metamorfosis kognitif yang bersifat substansial daripada simbolik dan memaksa. Berbeda dengan pendekatan yang mengutamakan penyampaian aqidah hitam putih dan sering menjadi saling berbenturan dengan keyakinan asal masyarakat. Upaya ini menurut Mujamil Qomar bisa dilihat dari perbandingan sekulerisasi Kemal Attatruk Turki yang gagal karena meninggalkam tradisi dengan pemisahan agama dan negara. Dan barangkali tak pernah mencoba mendialogkan anchor (jangkar) tradisi dengan agama seperti Islam Indonesia

Berbeda dengan Jepang yang menempatkan tradisi sebagai penopang kebudayaan dan kemajuan. Tradisi menjadi jangkar (anchor) perubahan dan kemajuan Jepang. Tradisi mengikat masyarakat kedalam ketahanan dan mentalitas yang kokoh untuk tetap meneguhkan semangat juang dan kemajuan. Nah Indonesia, menurut Guru Besar IAIN Tulungagung, memiliki polarisasi perkembangan keislaman yang berakar pada tradisi. Penyampaian juga berusaha untuk tetap menjaga tradisi pada proses menyesuaikan perubahan termasuk penyampaian Islam sebagai agama yang datang kemudian.

Ruang Tengah Tradisi, Cara Menemukan Otentisitas Islam Nusantara yang Moderat

Beradasarkan realitas tersebut maka ulama atau para kyai kemudian melahirkan kata-kata bijak, al muhafadhotu ‘ala qodhim al-sholih wa al-akhdu bi al-jadidi al-ashlah. Di sinilah Islam Indonesia akan selalu mampu mermetamorfosis dengan perubahan karena tetap mampu menjadikan tradisi sebagai kekuatan dalam peradaban Islam Indonesia. Islam nusantara dengan demikian adalah metodologi yang disandarkan kepada proses etnografis. Suatu penyampaian Islam yang menghargai lokalitas dan mencari nilai-nilai atau siasat yang bisa didialogkan sehingga memiliki nilai-nilai yang bisa dipertemukan, lantas Islam mengambil kekuatan baru dari hasil-hasil dialog tersebut tanpa meninggalkan tradisi yang sudah dipraktikkan masyarakat setempat. Ketika nilai-nilai itu diterima, kesamaan keimanannya bertemu, maka simbolisasi keislaman dilekatkan kemudian berdasarkan pada tanda-tanda lokalitas juga. Suatu  contoh sederhana, slametan. Dialog nilai dibangun berdasarkan spirit slametan itu sebagai doa untuk sebuah hajatan. Maka pengakuan doa itu tetap dipelihara karena realitas doa adalah anchor yang sudah mapan dan dipraktikan dalam berbagai budaya setempat. Kepercayaan yang menjangkar tersebut sulit digeser.

Melalui perjumpaan nilai kepercayaan, Islam Indonesia mencoba menemukan substansi kepercayaan tersebut dan tradisi tersebut dipinjam sebagai media yang tetap mampu menghubungkan doa dengan nalar kemanusiaan pendusuk setempat. Ketika momentum hubungan kemanusiaan tersebut dalam praktik-praktik tradisi, maka pesan keislaman mencoba disertakan untuk membedakan dengan bahasa keyakinan masyarakat setempat tanpa menggeser secara langsung, tetapi dipersandingkan agar bahasanya lebih akrab. Islam kemudian menyumbangkan keragaman kosa-kata kepercayaan. Persandingan ini kemudian diperkuat dengan tetap menjadikan tradisi lokal sebagai wadahnya. Kosa kata ini kemudian menambah khazanah bahasa-bahasa lokal yang ketika mendapat momentum, maka perpindahan kosa-kata itu menjadi lebih dialogis. Kosa kata Islam kemudian menjadi praktik-praktik berbahasa yang mudah dikenali dan dengan demikian dapat dikapitalisasi sebagai bagian dari pilihan berbahasa. Ketika bahasa tersebut kemudian mendapat kekuatan otoritatif, maka bahasa itu diperluas maknanya bagi masyarakat setempat sehingga akan mudah diterima.

Inilah Islam nusantara menjadi salah satu pendekatan untuk memahami percaturan Islam Indonesia yang syarat dengan pendekatan-pendekatan antropologis, bukan pendekatan syar’i yang menutup formulasi dialog dengan tradisi setempat. Islam Nusantara tidak menyingkirkan lokalitas dengan serakah dan agresif tetapi memasukan ruang tengah dialektika kemasyarakatan. Adanya ruang tengah ini berarti menempatkan lokalitas sebagai sebuah subyek yang memiliki daya cipta dan pewarisan tradisi. Mereka terikat pada kebermaknaan atas praktik-praktik kepercayaan yang dipilih. Oleh karena itu ruang tengah tersebut dipahami sebagai bagian dari proses perjumpaan antara Islam sebagai agama pendatang dengan bahasa kepercayaan yang berbeda dengan lokalitas.

Ruang tengah kemudian dimanfaatkan untuk mendengar bahasa lokal dan memilah-milah bahasa Islam secara tepat untuk dipersandingkan agar supaya mampu menciptakan bahasa komunikasi yang lembut dan mencair dalam kepercayaan lokal yang lebih dulu mapan. Bahasa Islam itu seperti pasar yang ditransaksikan dalam relung mentalitas tradisi lokal. Lalu dibangunlah proses-proses otoritatif dari pada pendakwah, seperi para wali dan diperkaya oleh kiai NU. Ketika bahasa Islam yang selaras dengan makna dasar dari masyarakat setempat diperkokoh melalui otoritas dari figur-figur masyarakat, yang biasanya selalu dimiliki oleh para wali dan kiai maka bahasa itu direproduksi dengan praktik-praktik tradisi lokal sedemikian sehingga masyarakat tetap memiliki hak milik tradisi. Dengan begitu ruang tengah menjadi transaksi bahasa Islam yang lebih menghargai makna lokal sebagai hak milik dan bahasa Islam menjadi bagian dari proses evolusi kedalam mentalitas lokal. Tradisi kemudian tetap ditempatkan sebagai jangkar keislaman tetapi dengan transformasi pembaruan simbolisasi baru dengan penambahan kosa-kata keislaman.

Islam nusantara dengan demikian tidak cukup mampu dipahami tanpa membangun sudut pandang multidisipliner karena pengalaman penyebaran Islam tidak dipungkiri memasuki persinggungan antara kepercayaan Islam dengan kepercayaan lokal. Selain itu, aspek-aspek budaya dan pengalaman hidup masyarakat terpadu menjadi pendekatan penyebaran Islam yang lebih inklusif. Penyebaran Islam dengan demikian lebih mengutamakan model-model dialogikalitas. Sebuah praktik komunikatif antara nilai-nilai Islam dengan nilai-nilai lokal. Dialogikalitas ini memberikan ruang pengaruh yang lebih otoritatif karena dibangun berdasarkan kekuatan kesepahaman kemanusiaan daripada pemaksaan keimanan.

Islam menjadi konstruksi makna, bukan pada penerimaan yang bersifat doktriner. Artinya, ruang tengah yang melahirkan komunikasi budaya lebih tertuju pada kemampuan menempatkan kepercayaan Islam sebagai ekspresi yang ditaruhkan kepada budaya setempat sehingga pengakuan lokalitas adalah pengakuan harga diri masyarakat ketimbang menyerang dan menyingkirkan harga diri masyarakat lokal. Suatu contoh sebagaimana yang disampaikan oleh Muzamil Qomar, dalam tembang Lir-Ilir, Sunan Bonang tetap menempatkan ekspresi kesenian lokal sebagai harga diri kebudayaan sementara konten ekspresi tersebut digubah menjadi lebih bernilai keislaman. Bahkan lebih ekstrem, pelafalan bismillah dengan lidah jawa smillah pun dapat diterima dengan otoritatif oleh para salih dan wali serta kyai. Asalkan substansinya menuju pada keimanan Allah, penuturannya dengan logat lokal pun menjadi begitu diterima. Inilah penghargaan lokalitas menjadi dihargai secara manusiawi. Ya karena logat itu tidak bisa dipaksakan karena ekspresi bahasa tidak lain merupakan logat budaya yang sulit diubah seketika.

Kita bisa menqiaskan (membandingkan) lagu Rhoma Irama. Rhoma banyak menggubah lirik lagu India menjadi lagu dangdut dengan bahasa Indonesia sehingga irama India tersebut dijadikan sebagai ekspresi lagu sementara kontennya diisi dengan semangat-semangat keagamaan dengan bahasa keindonesiaan. Pembandingan ini yang saya sebut sebagai ruang tengah, bahwa ekspresi budaya tidak ditanggalkan tetapi diambil dan dimanfaat menjadi wadah bagi gubahan-gubahan konten sehingga makna dan ekspresi budaya tetap menyatu dalam gubahan bahasa baru.

Foto : Dari kiri: H. Faizul Abrori, S.E., M.E.I (Ketua IKMASS Mlang Raya), Chafid Wahyudi, S.Th.I., M.Fil (Wakil Sekertaris LTN NU Jawa Timur), Prof. Dr. H. Mujamil Qomar, M.Ag (Guru Besar IAIN Tulungagung), Prof. Dr. M. Noor Harisudin, M.Fil.I (Ketua Asosiasi Penulis & Peneliti Islam Nusantara), Gus Achmad Tohe, M.A., Ph.D (Direktur Da’i Intelektual Nusantara Network), KHR. Achmad Azaim Ibrahimy, M.HI (Pengasuh Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo), Ustadz Drs. Munif Shaleh, M.Ag (Ketua Umum IKSASS Pusat), Lia Hilyatun Masrifah, M.Si (LTN NU Jatim), Abdur Rahim (Lakpesdam NU Kota Malang)

Islam Nusantara saya sebut sebagai ruang tengah yang mengapresiasi ekspresi tradisi. Ruang tengah itu menjadi tempat dialektika yang saling mencerahkan. Ketika situasi saling terbuka, maka pesan keagamaan dimainkan dengan sangat inklusif dan mengambil simpati lokalitas sehingga kesan yang ramah tetapi substansial itu membawa perubahan terhadap proses beriman seseorang. Islam nusantara menjadi sebuah pendekatan yang moderat karena tidak meminggirkan penduduk lokal, tetapi menempatkan penduduk lokal yang telah memiliki tradisi dan kebudayaan yang dihargai. Pesan keagamaan kemudian ditempatkan kedalam dialog kemanusiaan dengan makna yang lebih empatik tetapi mudah diterima daripada dogmatik dan agresif.

About Mohammad Mahpur

Pakar Psikologi Sosial dan Anak. Gelar master dan doktornya diperoleh di Fakultas Psikologi Universitas Gajah Mada Yogyakarta. Saat ini diamanahi sebagai Wakil Sekertaris PC NU Kota Malang, PW ISNU Jawa Timur, dan Founder kampusdesa.or.id

Lihat Juga

Menjadi Santri, Menjadi Muslim Kafah

Nyantri, sebutan untuk proses belajar Islam di pesantren, merupakan salah satu cara untuk menjadi pribadi ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *