Saturday , December 7 2019
Home / Hikmah / Gema Keberhakan dalam Mahabbah

Gema Keberhakan dalam Mahabbah

Hay Guys! Ketika mendengar gema berkah mungkin dalam pikiran kalian sempat terlintas bayang kehidupan masa depan. Biasanya, bayangan kita mengarah pada keberkahan yang didapat dari pengorbanan seorang guru yang selalu membinmbing dalam kebaikan. Tak peduli walau kita sempat menyakitinya, guru bagai hembusan angin kala menerpa kapal di laut. Yang selalu ada untuk memotivasi kita.

Guru menjadi alasan sekaligus kekuatan yang sangat besar untuk mendapat keberkahan. Tak heran jika sebagian orang meyakini bahwa Allah SWT akan memberi keberkahan bilamana seorang murid dan guru sudah memiliki kontak batin, semacam washilah. Seorang santri haruslah memiliki kontak batin yang sangat kuat dengan kiainya, begitu sebaliknya. Kontak batik yang demikian agar ia santri mendapat keberkahan sekaligus keridloan dan kemanfaatan.

Keberkahan mengandung makna untuk diri sendiri, sementara kemanfaatan dapa dirasakan oleh orang lain. Ibararat kata, kemanfaatan mirip seperti pohon yang berbuah yang dapat dinikmati oleh “yang lain”.

Mengenai kontak batin, bisa diibaratkan, seorang santri yang ngabdi kepada kiai. Ngabdi diartikan sebagai tindakan santri yang senantiasa membantu kiai untuk meringankan setiap pekerjaan kiai dengan ikhlas dan senang hati. Biasanya, tindakan semacam ini kelak dapat meningkatkan mahabbah, baik kepada kiai, keluarga, dan pada pekerjaan yang sedang ia kerjakan.

Kata mahabbah tak melulu harus diutarakan kepada lawan jenis saja. Yang, sudah barang tentu diawali dari melihat kelebihan-kelebihan yang ada, cantik-ganteng, pintar, dan seterusnya. Sebagaimana para penyair arab jahiliyah yang menciptakan syair-syair cinta kasih sebagai ekspresi mahabbah. Padahal, mahabbah yang demikian muaranya pada hawa nafsu terhadap lawan jenis.

Namun, setelah Allah SWT mengutur kekasihnya yang bernama Muhammad SAW, masyarakat arab jahiliyah menyadari bahwa mahabbah bukan saja urusan nafsu. Bahkan, syair-syair mereka lebih banyak menggambarkan ekspresi mahabbah sebagai sebuah keimanan dan pencarian keberkahan.

Penulis: Balya Ibnu Malkan (Santri Pondok Pesantren Mansyaul Huda 2 Senori, Tuban)

About Admin

"Dari aswaja untuk bangsa" | Admin Utama | tasamuh.id@gmail.com | i.g @tasamuh.id | Lakpesdam Kota Malang

Lihat Juga

Beasiswa Madrasah Literasi untuk Pesantren

Madrasah Literasi untuk Pesantren adalah program pengembangan literasi muda anak bangsa terutama yang ada di ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *