Sunday , April 21 2019
Home / Kolom / Forward Buta, Nabi Katakan Pembohong
Ilustrasi gambar diambil dari https://muhandisun.wordpress.com

Forward Buta, Nabi Katakan Pembohong

Tasamuh.id–Tahun 2019 disebut dengan tahun politik. Informasi yang dikonsumsi pun sangat banyak terkait dengan aneka kebutuhan kampanye dan berbagai pesan untuk menarik simpatisan. Trending topik di beberapa akun media sosial menjadi tolak ukur publik. Trending topik menjadi tuhan-tuhan kecil yang diperebutkan dengan berbagai tujuan, mulai dari mengenalkan figur, memecah perhatian, meningkatkan sentimen, bahkan membuat narasi prasangka untuk memperoleh keuntungan mendulang suara. Aneka hastag (#) diciptakan sebagai senjata kata-kata agar mudah mengkapitalisasi pesan dalam berbagai indeks pencarian dan menyedot informasi berdasarkan kata kunci tertentu.

Hastag yang dikembangkan dari aneka status media sosial, baik dengan batasan kata atau status tulisan yang panjang dan lebih menarik disertai pesan video. Dengan demikian, pesan politik bisa mudah didapatkan apalagi berujung viral, tentu, bisa juga menjadi sumber pendapatan. Lumayan kan dibuat menambah dana kampanye. Surplus.

Sebagai masyarakat digital, kesenangan kita bertambah. Pesan atau video itu seperti jamu menitan yang membikin kita senyum, tertawa ha ha hi hi sendirian. Kalau zaman pra-digital, yang senyum-senyum dan tertawa sendirian mesti dicap miring alias tidak penuh pikirannya. Kita juga sering peragakan dengan jari telunjuk diiringkan di depan kening, pertanda orang yang kita simbolkan begitu sebagai sosok yang tidak tegak (jawa: jejeg). Tapi era digital menjadikan senyuman dan tertawa sendirian bagian pertanda sehat. Wong dengan sendirian saja bisa tertawa, berarti kan gembira. Nah, dipikir-pikir kalau menyembuh orang gila di era digital sepertinya lebih mudah. Orang gila tersebut cukup dikasih smartphone, maka senyuman dan tertawaannya sudah selevel orang normal kan. Berarti era digital cukup membantu para orang depresi dan gila setara dengan orang normal. Heee…

Iki wolak walike zaman memunculkan perilaku baru yang waras tidak waras bergeser ya. Betul kah demikian yang Anda rasakan. Kalau pembaca tidak setuju, yo wis ben… Eh, kasar sekali nada saya. Maafkan ya kalau terlalu slengekan. Dilanjutkan saja ya pembahasan ini. Begini titik wolak walike zaman. Kita memang mudah mendapatkan informasi. Meski terkesan gratisan, nah lagi-lagi kita sudah terlena oleh kepentingan proveder penyedia paket data. Saat sudah punya paket data kita lupa juga kalau sebenarnya kita telah membayar informasi dan pesan yang kita forward ke orang lain.

Kembali ke pokok persoalan mengenai pesan digital. Banyak sekali pesan yang diproduksi orang dan banyak juga yang menyebarkannya. Apalagi kalau sudah menyangkut sentimen sara, agama dan personal, apalagi ketika sudah menyinggung kebutuhan identitas dan kepentingan eksistensi masyarakat. Pesan yang diterima nyaris ditelan mentah-mentah dan langsung dibagikan secara berjamaah. Pesan itu akan viral. Yah yang untung ya pemilik jasa pulsa. Dari berbagai amatan isi pesan (content digital) sering sekali pesan itu diinjeksi emosi ketakutan, kebencian, pembenaran dan serangan halus terhadap sosok atau etnik dan agama. Biasanya pesan-pesan demikian itu lebih banyak bergenre cerita, potongan-potongan berita, bahkan berupa video yang diedit sehingga jikalau diterima tanpa pendengaran kritis, maka bisa jadi para masyarakat digital akan terjebak pada pemahaman yang salah.

Penerimaan seluruh informasi yang masuk dalam mesin digital kita tidak bisa dibendung. Jika penerima pesan tidak kritis, informasi itu akan mendikte pikiran pembaca dan mudah membenarkan seluruh informasi sehingga ketika dirasa pesan itu cocok, membela, bahkan menyentuh emosi pembaca maka seseorang tersebut akan mudah melakukan pembenaran. Apalagi jika meneruskan pesan tersebut ke orang lain dan merasa pembagi pesan tersebut merasa menjadi lebih baik, lebih merasa agamis maka hal itu akan menguasai mentalitas taqlid pesan dan mudah menyesatkan pikiran kita. Mengapa demikian? Pikiran seseorang itu akan mudah terbentuk dari proses penyerapan informasi yang bertubi-tubi meskipun tidak begitu disengaja. Justru ini yang lebih berbahaya ketika seseorang lebih suka ngeshare informasi itu, berarti dia sedang merekam pembenaran pesan tersebut dan membentuk cara berpikirnya.

Obyek bacaan lama kelamaan akan membentuk pandangan, sikap dan perilaku tertentu yang mengubah seseorang.

Hasil penelitian psikologi bahwa bacaan bergenre cerita pendek secara perlahan-lahan akan membentuk perubahan pandangan dan sikap terhadap orientasi seksual seseorang dan perilaku menyintai obyek sebuah sosok di dalam komik (Saputri, 2013;  Chusnawati, 2014). Penelitian ini membuktikan bahwa obyek bacaan lama kelamaan akan membentuk pandangan, sikap dan perilaku tertentu yang mengubah seseorang. Oleh karena itu, sangat relevan jika pengaruh pesan-pesan yang dibaca kemudian diteruskan (diforward) ke orang lain menunjukkan bahwa penerima itu telah menyepakati isi pesan, lama kelamaan akan mempolarisasi proses berpikir pembaca pada sebuah kebenaran yang tidak memiliki acuan jelas.

Realitas ini ternyata sudah menjadi pengalaman dan perimgatan yang didengungkan nabi. Nabi Muhammad mengingatkan kepada umat Muslim dan dapat diperluas kepada umat manusia bahwa barang siapa merima kabar berita dan langsung disebarluaskan maka besar kemungkinan orang itu lebih dekat sebagai pembohong. Ini dapat disejajarkan dengan cara penyebaran informasi masyarakat digital yaitu sedikit-sedikit forward pesan. Apalagi kalau ada pesan agama maka masyarakat beragama yang aktif bermedia sosial langsung tanpa pikir panjang, forward saja. Toh ini ada dalilnya, pasti baik. Apalagi itungitung ada pesan, jika Anda orang beragama maka menyebarkan pesan ini bagian dari ibadah. Wus…. langsung main forward.

Gejala ini sampai juga menjangkiti di kalangan terdidik yang seharusnya bisa berpikir kritis, bahkan selevel profesor-pun kok yo iso-isone main forward ketika menerima pesan yang memihak dan bahaya, seperti memojokkan identitas agama. Padahal kalau dipikir-pikir mereka kan tidak sulit menulis ssndiri lalu dibagikan. Sik-sik, jangan-jangan hasrat ibadah kita menggebu-gebu, ingin segera mendapat pahala dan mumpung ada konten ibadah, langsung saja diforward, ringan, tidak perlu butuh berpikir apalagi menulis membuat konten yang lebih orisinil. Bagaimana kok bisa, padahal kalangan terdidik seharusnya lebih kritis dan otonom untuk memproduksi konten keagamaan atau konten sendiri yang dapat dibagikan ke masyarakat digital. Masyarakat digital menjadi instan dan gegabah tanpa mampu menyeleksi dan mengkaji orisinalitas pesan, bahkan pesan yang terkadang dibumbui oleh dalil-dalil agama tetapi sebenarnya hanya menguatkan pesan tersembunyinya untuk menabur kebencian, keekslusifan dan keberpihakan yang buta. Inilah alasan mengapa Nabi kemudian memberikan penjelasan sebagai berikut,

(عن أبى هريرة قال: قال رسول الله ص. كَفَى بِالْمَرْءِ كَذِبًا‘ أنْ يُحَدِّثَ بِكُلِّ مَا سَمِعَ (رواه مسلم

“Cukuplah seseorang dikatakan sebagai pendusta apabila dia mengatakan semua yang didengar” (HR. Muslim).

Orang yang mudah membagikan pesan berarti dia taqlid konten. Sementara sumber dari konten jarang yang mau melacak atau membuat perbandingan dengan dinalar argumentasinya, dicerna arah pesannya dan dikaji berdasarkan sumber-sumber otentik lainnya. Seperti semacam orang ghibah (menggunjing, rasan-rasan), apa yang didengar langsung diurai tanpa menimbang bagaimana fakta-fakta lain dikumpulkan untuk menarik kesimpulan. Nah, mudahnya seseorang memforward pesan tanpa seleksi, itu berarti menunjukkan kelemahan daya nalar seseorang dan mudah terpengaruh. Pribadi yang mudah terpengaruh akan rentan dengan informasi yang sentimentil sehingga lebih gampang membagikan.

Coba kita lihat dalam kehidupan sehari-hari, ghibah mengondisikan seseorang lebih gayeng kalau mendapat berita hangat dan langsung tebar informasi sehingga akan menggelembung menjadi isu publik yang bisa pesan utamanya sudah jauh tidak dikenali, apalagi fakta-fakta yang melengkapinya. Situasi ghibah menggambarkan mengapa informasi yang kita perloleh cenderung lebih dekat dengan kebohongan. Hadits tersebut mengingatkan bahwa setiap orang diharuskan untuk mengenali pesan terlebih dahulu, dan mengkaji maksud pesan utama tersebut seperti apa dan jika pesan tersebut telah teruji maka barulah kita diperbolehkan menyampaikan ke orang lain jika memang diperlukan. Tetapi jika pesan itu tidak penting untuk kepentingan publik, apalagi indikasi pesan itu menimbulkan berbagai kesalahan tafsir tanpa kemudian memberikan ruang konfirmasi dan dialog kritis, maka pesan tersebut sebaiknya diendapkan hanya untuk konsumsi pribadi atau diendapkan untuk menghindari munculnya berbagai kesalahpahaman publik.

Seseorang yang suka memviralkan atau membagikan setiap berita yang didengarkan, dia tidak akan bisa dipercaya menjadi seorang pemimpin.

Orang yang suka menyampaikan setiap apa yang didengarnya justru pribadinya menjadi pribadi yang rentan, dan sangat bertentangan dengan modal kepemimpinan. Oleh karena itu, Imam Malik menyampaikan di dalam Hadits Riwayat Muslim bahwa seseorang yang suka memviralkan atau membagikan setiap berita yang didengarkan, dia tidak akan bisa dipercaya menjadi seorang pemimpin. Tidak tanggung-tanggung, tidak percaya ini berlaku selama-lamanya. Berdasarkan riwayat ini, seseorang akan ternodahi ketika dia lebih suka memviralkan (memforwardkan) pesan yang tidak tahu sumbernya (Jluntrungnya). Mbok ya ho, minimal dicek keaslian pesan itu. Hadits itu berbunyi sebagai berikut, “Dari Ibnu Wahb: Imam Malik berkata kepadaku: Ketahuilah, sesungguhnya orang yang menyampaikan setiap berita yang dia dengar itu tidak diterima. Seseorang tidak bisa jadi pemimpin selamanya, jika dia suka menyampaikan setiap yang dia dengar (HR. Muslim dalam Mukadimah Shahihnya).

Pernah lo, ada sebuah pesan yang viral dan bersumber dari seorang profesor ternama dari perguruan tinggi tertentu, ternyata setelah dicek, seorang profesor tersebut tidak pernah membuat pesan berantai tersebut. Nah, pelajaran ini memberikan peringatan bahwa cara kita membagikan pesan sangat terkait dengan kredibilitas seseorang. Dengan begitu kita tentu perlu untuk sesering mungkin tabayyun (mengecek kebenaran pesan itu) sehingga setiap orang harus terlatih untuk menyaring setiap informasi yang ingin dibagikan atau sudahlah, berhenti memviralkan pesan, lebih-lebih kalangan terdidik, lebih baik membuat pesan dari tulisan asli kita sehingga bisa menjadi bahan diskusi (Lihat QS. Al-Hujurat, 6). Itu lebih baik dan mencerdaskan daripada diantara kita memviralkan pesan ke group WA lantas geger dan sentimentil pesan-pesan kita. Inilah yang menjadikan kita semakin rentan dan tidak teruji jiwa kepemimpinan dari setiap masyarakat digital.

About Mohammad Mahpur

Pakar Psikologi Sosial dan Anak. Gelar master dan doktornya diperoleh di Fakultas Psikologi Universitas Gajah Mada Yogyakarta. Saat ini diamanahi sebagai Wakil Sekertaris PC NU Kota Malang, PW ISNU Jawa Timur, dan Founder kampusdesa.or.id

Lihat Juga

Islam Nusantara, Ruang Tengah Moderatisme

Tasamuh.id– Menyerang istilah Islam nusantara dengan kecurigaan, bahkan dianggap sebagai mazhab baru atau bagian dari ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *