Thursday , January 17 2019
Home / Kolom / Feminisasi Kemiskinan
http://assets.change.org/photos/9/hj/ux/GlhjUxtOgqvsdvb-1600x900-noPad.jpg

Feminisasi Kemiskinan

Kemiskinan rumah tangga seharusnya lebih menjadi perhatian NU-Muslimat, didasari atas pencermatan terhadap adanya peningkatan populasi perempuan yang hidup di bawah garis kemiskinan serta semakin tumbuh dan akutnya kondisi kemiskinan yang terjadi pada rumah tangga dengan kepala rumah tangga perempuan.

Fenomena yang sering dikenal sebagai feminisasi kemiskinan atau kemiskinan yang semakin berwajah perempuan tersebut memerlukan upaya khusus dalam rangka penanganannya. Secara psikologis, perempuan membutuhkan aktualisasi diri demi pengembangan dirinya dan sesuatu yang pada akhirnya juga berdampak positif terhadap pengembangan umat manusia pada umumnya. Berbicara secara Ke-ummatan, pastinya jamaah NU ada didalamnya. Jamiyyah sebagai alat penggerak jalannya suatu pembangunan jamaah dan berkembangnya sebuah organisasi tergantung dari sejauh mana kecerdasan dan kreativitas Organisasi – LKKNU dalam memajukan jamaah terkhusus perempuan janda.

Perempuan merupakan salah satu kelompok rentan terhadap bencana. Penyebab kerentanannya adalah karena struktur dan kultur dalam masyarakat Indonesia yang memposisikan perempuan kurang mampu mengakses informasi secara langsung dalam rapat-rapat desa atau pun pelatihan-pelatihan upgrade diri. Akan tetapi perempuan di sisi lain mempunyai sebuah jaringan sosial yang kuat yakni perempuan terintegrasi dalam kelompok-kelompok kerukunan seperti kelompok pengajian muslimat, kelompok PKK, Kelompok Arisan, dan kelompok pengajian yang lain.

Dari Abu Hurairah, berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

السَّاعِي عَلَى اْلأَرْمَلَةِ وَالْمَسَاكِيْنِ، كَالْمُجَاهِدِ فِي سَبِيْلِ اللهِ، وَكَالَّذِي يَصُوْمُ النَّهَارَ وَيَقُوْمُ اللَّيْلَ

“Orang yang berusaha menghidupi para janda dan orang-orang miskin laksana orang yang berjuang di jalan Allah. Dia juga laksana orang yang berpuasa di siang hari dan menegakkan shalat di malam hari.” (HR. Bukhari no. 5353 dan Muslim no. 2982)

Termasuk dalam menolong para janda adalah dengan menikahi mereka. Namun janda manakah yang dimaksud?
Disebutkan dalam Al Minhaj Syarh Shahih Muslim (18: 93-94), ada ulama yang mengatakan bahwa “armalah” yang disebut dalam hadits adalah wanita yang tidak memiliki suami, baik ia sudah menikah ataukah belum. Ada ulama pula yang menyatakan bahwa armalah adalah wanita yang diceraikan oleh suaminya.

Ada pendapat lain dari Ibnu Qutaibah bahwa disebut armalah karena kemiskinan, yaitu tidak ada lagi bekal nafkah yang ia miliki karena ketiadaan suami. Armalah bisa disebut untuk seseorang yang bekalnya tidak ada lagi. Demikian nukilan dari Imam Nawawi.

Dari pendapat terakhir tersebut, janda yang punya keutamaan untuk disantuni adalah janda yang ditinggal mati suami atau janda yang diceraikan dan sulit untuk menanggung nafkah untuk keluarga. Adapun janda kaya, tidak termasuk di dalamnya.

Penulis :
Mufid Zamrony

About mufid zamrony

Lihat Juga

TEHRAN, PESONANYA SEMPURNA

Mendapat kesempatan berkunjung ke Iran sungguh menyenengakan. Negeri yang dalam sejarah sering disebut Persia ini ...

One comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *