Sunday , April 21 2019
Home / Kolom / Bid’ah itu Sudah Ada di Zaman Rasulullah
www.aswajanucenterjatim.com

Bid’ah itu Sudah Ada di Zaman Rasulullah

Kata bid’ah seringkali menjadi istilah yang digunakan menuduh bahwa seseorang itu sesat atau kafir. Tuduhan seperti itu (bid’ah) tidak mengenakkan untuk didengar. Bahkan tak jarang berujung pada kemarahan bagi siapa saja yang dituduh. Klaimnnya sepihak, dan berujung pada permusuhan. Tentu, dalam beragama Islam mendapat tuduhan bid’ah, sungguh  menjadi sesuatu yang cukup mengganggu pikiran.

Secara bahasa, istilah bid’ah berasal dari akar kata bd‘a yang berarti mencipta; menciptakan sesuatu yang tidak ada sebelumnya. Bid’ah merupakan bentuk isim mashdar dari akar kata tersebut, memiliki arti ciptaan atau sesuatu yang diciptakan. Secara bahasa, istilah bid’ah memiliki pengertian yang netral. Namun maknanya berubah menjadi memiliki muatan negatif untuk melabeli sebuah perilaku yang dianggap sesat.

Dalam sebuah hadits nabi Saw. disebutkan,  “setiap sesuatu yang baru adalah bid’ah, dan setiap bid’ah adalah kesesatan, serta setiap kesesatan ada di neraka.” Dalam praktik beragama Islam, hadits inilah yang kemudian dijadikan pembenar bahwa melakukan sesuatu yang tidak ada (dilakukan) di zaman Rasulullah Saw. merupakan tindakan bid’ah. Dan siapa yang melakukan bid’ah berarti masuk neraka atau menjadi sesat.

Pendasaran makna bid’ah dalam pengertian negative seperti itu dengan merujuk pada hadits tersebut, tentu tidak dapat diterima dengan mudah. Buktinya, sebagian sahabat nabi Saw. pernah melakukan perbuatan yang sama sekali tidak dilakukan oleh beliau. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori (hadits nomor 799) dinyatakan: “Suatu hari, kami shalat bersama Rasulullah Saw. Ketika beliau mengangkat tangannya dari ruku’, beliau mengatakan sami’a Allohu liman hamidah. Seorang laki-laki di belakang beliau kemudian membaca rabbana walakal hamd hamdan thayyiban mubarakan fih. Ketika shalat usai, belaiu bertanya: “siapa yang membaca demikian?” Laki-laki itu menjawab: “saya.” Beliaupun lantas bersabda: “Aku melihat tiga puluhan lebih malaikat yang mengitari,  sedang mencatatnya.” Hadits ini merupakan hadits sahih.

Hadits tersebut menjelaskan kepada kita bahwa Rasulullah Saw. merasa asing dengan bacaan laki-laki setelah bangun dari ruku’, yaitu rabbana walakal hamd hamdan thayyiban mubarakan fih, sehingga beliau harus bertanya siapa yang mengucapkannya. Bacaan laki-laki itu bukan merupakan bacaan yang diajarkan oleh beliau, namun demikian beliau tidak lantas marah dan menuduhnya sesat. Meskipun tidak diajarkan oleh beliau Saw., bacaan laki-laki tersebut secara konten tidak bertentangan dengan ketauhidan atau keimanan. Bahkan Rasulullah pun malah membolehkan seraya menjelaskan kalau ada puluhan malaikat mencatat apa yang dibaca laki-laki itu sebagai pahala.

Dalam cerita yang lain dinyatakan, bahwa ketika Rasulullah Saw. mengutus Muadz bin Jabal ke Yaman, beliau bertanya kepadanya: “Bagaimana kamu memutuskan masalah jika kamu dihadapkan pada suatu persoalan?” Muadz menjawa: “saya memutuskan dengan al-Qur’an.” Beliau bertanya balik: “jika tidak ditemukan dalam al-Qur’an?” Muadz kembali menjawab: “dengan Sunah Rasul Saw.” Beliau bertanya lagi: “jika tidak ditemukan dalam sunah Rasul Saw?” Muadz pun kembali menjawab: “saya berijtihad dengan pendapatku” Mendengar jawaban Muadz seperti itu, Rasulullah Saw. mengusap dadanya, dan bersabda: “segala puji bagi Allah yang telah menunjukkan utusan Rasulullah kepada jalan yang diridloi.” Lagi-lagi, hadits ini mengisyaratkan kepada kita bahwa Rasulullah Saw. tidak menyalahkan Muadz ketika memutuskan suau perkara tetapi dasarnya tidak ditemukan dalam al-Qur’an dan hadits (sunah) karena Muadz berpijak pada pendapatnya.

Berangkat dari dua cerita sebagaimana termaktub dalam hadits tersebut, dapat ditegaskan bahwa istilah bid’ah tidak dapat dijadikan sebagai label negatif (kesesatan) terhadap setiap amalan atau perbuatan yang tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah Saw. Di zaman Rasulullah Saw. saja sebagian sahabat sudah melakukan apa yang tidak diajarkan oleh beliau, dan beliau pun tidak menganggapnya sebagai bentuk kesesatan karena ada kebaikan di dalamnya. Oleh karena itu, kita seharusnya lebih berhati-hati dalam menggunakan istilah bid’ah. Lebih-lebih menggunakannya untuk menuduh sesat kepada ‘orang lain’.

Mungkin benar prinsip yang diajukan oleh Imam Jalaluddin Assuyuthi dalam bukunya Husn al-Maqshid fi Amal al-Maulid, yaitubahwa “tidak adanya dalil bukan berarti menghalangi hal-hal yang maujud yang dilakukan dikemudian hari” (nafyu al-ilmi la yalzamu minhu nafyu al-wujud).

Persoalan bid’ah bukan sekedar persoalan yang terkait dengan ‘apa yang tidak dilakukan sebelumnya’ dan ‘apa yang telah dilakukan’. Atau terkait dengan ‘masa lalu’ dan ‘masa sekarang’. Sekali lagi, bid’ah tidak bisa dipahami dalam pengertian hitam atau putih. Tetapi, sejauh yang dilakukan—meskipun tidak ada sebelumnya—tidak bertentangan dengan ketauhidan atau menghadirkan kemaslahatan, maka di situ tuduhan bid’ah harus dipertimbangkan.

Di sinilah, kita dalam beragama Islam tidak saja butuh pada dali-dalil, tetapi juga butuh pada cara berpikir yang bijaksana. Bukankah para mujtahid Islam, seperti Imam Syafi’i dan yang lain, tidak menjadikan al-Qur’an dan hadits sebagai sumber hukum satu-satunya tetapi masih menerima ijma’, qiyas, mashlahahtul mursalah, syar’u man qablana, dan seterusnya? Memang tidak mudah menjadi seorang muslim yang bijaksana. Tetapi setidaknya, jangan mudah melabelkan bid’ah (sesat) kepada sesama muslim. Katakan kebaikan atau diam! (fal yaqul khairon aw liyashmut). Wallahu a’lamu.

About M. Faisol Fatawi

Dosen UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Dilahirkan di Bungah Gresik Jawa Timur. Menempuh pendidikan di MI Hidayatul Mubtadi’in Mojopuro Wetan Bungah (1987), kemudian nyantri di Pondok Pesantren Ihyaul Ulum Dukun Gresik sambil sekolah di MTs Ihyaul Ulum (1990) dan MA Ihyaul Ulum (1993). Hijrah ke Yogyakarta untuk menempuh S1 Bahasa dan Sastra Arab IAIN (sekarang UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta (1997) dan S2 Akidah dan Filsafat Jurusan Filsafat Islam (2004). Sedang S3 bidang Islamic Studies di UIN Sunan Ampel Surabaya. Saat ini, diamanahi sebagai Ketua Lakpesdam NU Kota Malang (2 periode) dan Wakil Ketua LTN NU Jawa Timur.

Lihat Juga

Islam Nusantara, Ruang Tengah Moderatisme

Tasamuh.id– Menyerang istilah Islam nusantara dengan kecurigaan, bahkan dianggap sebagai mazhab baru atau bagian dari ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *